Ada apa dengan dunia pendidikan kita?

Kenapa guru akhir-akhir ini sering mendapat perlakuan tak wajar dari anak didiknya?

Karena kita masih lebih mengutamakan pendidikan yang membuarlt pintar secara akademik saja. Bahkan mengesampingkan pendidikan agama.

Perlu kita lihat lagi tujuan utama pendidikan nasional dalam UU Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1, bahwa yang dimaksud dengan Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Garis bawahi “untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia”.

Mendidik seseorang tujuan utamanya adalah memiliki spiritualitas keagamaan yang baik. Mengapa demikian? Agama dipandang oleh kita sebagai pembinaan iman, ilmu, dan amal. Iman merupakan pengatur hubungan transeden manusia sebagai makhluk dan Allah sebagai khaliq. Selanjutnya, ilmu menjadi inti dari seseorang beragama. Karena iman yang tak didasari ilmu, akan menjadikannya menyimpang. Terakhir, amal adalah implementasi dari ilmu dan cerminan iman seseorang.

Di sinilah sekolah sebagai institusi pendidikan dan guru sebagai pendidik berperan penting. Bagaimana menguatkan keimanan seorang anak, kemudian mengembangkan keilmuannya, dan dengan senantiasa mengamalkan apa yang telah diperolehnya.

Amal pada konteks ini tak terbatas pada implementasi ilmu secara harfiah saja. Melanikan juga bagaimana adab dan akhlak dikedepankan. Karena, adab dan akhlak merupakan sesuatu yang secara lahiriah dinilai oleh sesama. Ilmu dan iman tak bisa terlihat manusia, maka akhlak adalah cerminannya.

Maka pendidikan kita sudah sepantasnya mendidik akhlak dan agama sebagai pondasi dasar di setiap jenjang. Bukan hanya tugas guru semata, namun juga seluruh elemen, termasuk orang tua. Setiap elemen perlu menjadi uswatun hasanah, teladan yang baik agar menciptakan generasi yang terpuji.

Kalau kondisi sudah seperti saat ini, orang-orang yang sebelumnya menentang pendidikan agama menjadi terdiam. Sebelumnya agama dianggap hanya urusan individu, padahal agama adalah pondasi utama masyarakat madani. Fakta menunjukkan, anak-anak yang pintar secara akademik tak selamanya berakhlak baik. Jangankan beradab pada sesama, diri sendiri pun tak bahagia. Anak-anak Korea Selatan yang memiliki kecerdasan tinggi terlihat rentan bunuh diri. Sebaliknya, anak-anak Indonesia yang bersekolah di pesantren, banyak yang kemudian menjadi tokoh di masyarakat dan mampu memberikan dakwah baik tekstual maupun kontekstual.

Sekularisasi pendidikan menjadi konsep usang yang tak pantas dilanjutkan jika kita ingin menjadikan bangsa Indonesia sebagai masyarakat madani. Masyarakat yang hidup beradab dan shaleh secara ilahiyah dan sosial hanya dapat lahir dari pemahaman yang kokoh atas agama. Agama tidaklah pantas dipandang sebagai pembawa kejahatan. Melainkan hanya dengan agama, amar makruf nahi munkar dapat berjalan. Jangan lagi memisahkan agama dari segala sisi kehidupan, melainkan menjadikan agama pondasi dalam kehidupan. Dengan demikian, bangsa Indonesia yang adil dan beradab dapat kita raih.

-famajiid-_20160812_145650

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s