Santri dan Indonesia

dp-bbm-hari-santri-nasional-22-oktober-11
Hari Santri Nasional

Pada 2015 lalu, Presiden Jokowi menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Menarik bagi kita untuk melihat perjalanan kaum santri dalam republik ini. Santri tentu memiliki peran istimewa dalam negeri ini. Kiprahnya pun masih terus dirasakan hingga hari ini. Lantas, bagaimanakah hubungan kaum santri dan Indonesia?

Pada masa sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, istilah santri sudah dikenal luas oleh masyarakat. Santri diidentikkan dengan orang-orang yang mondok di pesantren. Pada masa lalu, kaum santri sudah dilihat sebagai bagian penting dari penduduk Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Seorang antropolog asal Amerika, Clifford Geertz dalam bukunya Religion of Java bahkan menuliskan tiga pembagian penduduk Indonesia, khususnya di Jawa. Terdapat tiga kaum yang menonjol dalam masyarakat Jawa, yakni kaum abangan, kaum priyayi, dan kaum santri. Kaum santri adalah segolongan masyarakat yang menuntut ilmu di pesantren dan berfokus pada pembelajaran keagamaan.

Pergerakan kaum santri merupakan salah satu yang terpenting dalam bagian sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sejak dahulu, kaum santri selalu menjadi lawan pemerintah kolonial. Berbeda dengan kaum abangan yang terkadang bersama Belanda guna mempertahankan kekuasaan, santri selalu menantang penjajahan koloni. Slogan terkenal dalam lingkungan pesantren, hidup mulia atau mati syahid menjadi semboyan dalam menentang penjajah. Bagi mereka, tunduk di bawah kekuasaan koloni membuat hidup menjadi hina, maka sudah sepatutnya melawan koloni Belanda.

Penetapan tanggal 22 Oktober ini juga diinspirasi oleh keluarnya Resolusi Jihad dari kaum santri dalam melawan penjajah. Pada 22 Oktober 1945, ulama dan santri dari kalangan Nahdhatul Ulama mengeluarkan Resolusi Jihad sebagai bentuk perjuangan jihad dalam mempertahankan NKRI menurut hukum agama Islam. Bahkan, para ulama memfatwakan bahwa menjaga kemerdekaan Indonesia adalah fardhu ‘ain, alias wajib bagi setiap individu. Resolusi ini pun efektif dalam mempertahankan setiap jengkal tanah air dari perebutan dengan tentara Belanda.

Pada Resolusi Jihad ini, terlihat bagaimana keseriusan kaum santri dalam menentang penjajahan. Semangat jihad fii sabilillah adalah perekat terkuat di negeri ini, melebihi pembelaan terhadap suku ataupun ikatan lainnya. Jihad dalam pandangan kaum santri merupakan kewajiban, yang apabila ia meninggal dalam keadaan berjihad menegakkan agama dan membela tanah airnya, ia akan mendapatkan gelar syuhada. Tak mengherankan, apabila banyak pahlawan nasional negeri ini yang berasal dari kaum ulama, seperti Tuanku Imam Bondjol dan Pangeran Diponegoro.

Salah satu kisah menarik perjuangan kaum santri dapat kita lihat di peristiwa Bojongkokosan, Sukabumi. Pada saat upaya pendudukan kembali Indonesia oleh Belanda dilakukan, kaum santri melakukan perlawanan hanya dengan bersenjatakan batu, tombak, dan senjata tradisional lainnya. Namun, ada hal yang kemudian membuat perlawanan kaum santri ini berhasil. Berkat doa dan strategi yang dijalankan, Allah menurunkan hujan dan kabut di saat rombongan tentara penjajah mencoba menembus kawasan Bojongkokosan. Santri-santri dan ulama yang sudah berkumpul pun mengepung dari bukit-bukit dan menjebak tentara Belanda di suatu lembah. Akhirnya, karena gerak-gerik kaum santri tertutup oleh tebalnya kabut, pasukan Belanda pun dapat diserang secara efektif. Inilah kekuatan kaum santri yang tidak dimiliki kaum penjajah, kedekatannya dengan Rabb Yang Menguasai Semesta Raya. (Selengkapnya mengenai kisah ini dapat dibaca tulisan saya di Kompasiana; Bojongkokosan, menengok yang terlupa)

Selain di peristiwa Bojongkokosan, pengaruh kuat kaum santri terlihat juga dalam pertempuran di Surabaya. Bung Tomo, pahlawan nasional kita yang terkenal dengan pidato yang menggetarkan itu, bisa menyatukan rakyat Indonesia di bawah kalimat Takbir, Allahu Akbar, yang kemudian disusul dengan pekikan kemerdekaan. Dari peristiwa ini, dapat dipahami, bahwa perjuangan bangsa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perjuangan kaum santri dan semangat jihad yang harus selalu terjaga.

Santri di masa kini

Pada masa modern ini, peran santri tetap penting dalam menjaga keutuhan NKRI. Perjuangan kaum santri tidak dapat dipandang sebelah mata. Berdirinya republik ini pun banyak diperjuangkan kaum santri. Maka dari itu, sangat disayangkan apabila terdapat peraturan dan hukum di negeri ini yang merugikan kaum santri dan umat Islam secara luas. Perjuangan menegakkan kalimat Allah pun terlihat jelas sebagai perjuangan kaum santri. Terdapat dua tantangan utama bagi kaum santri pada masa kini, pertama adalah sitgma buruk pada agama Islam dan kedua adalah radikalisasi dan terorisme yang menyasar kaum santri.

Stigma buruk terhadap umat Islam pada masa kini perlu diperbaiki melalui perjuangan kaum santri. Kata jihad, jika pada masa lampau mampu menggentarkan kaum penjajah dan menyatukan rakyat, kini berada dalam stigma negatif yang berbau ajaran radikal. Stigma lainnya yang membuat buruk citra umat Islam dan kaum santri adalah ketertinggalan. Banyak yang beranggapan bahwa menjadi santri di pesantren membuat santri tidak bersentuhan dengan dunia globalisasi dan sulit tanggap terhadap kemajuan zaman. Padahal, pada masa kini, sudah banyak pesantren yang mampu menyeimbangkan pengajaran agamanya dengan ilmu keduniaan. Pada akhirnya, ilmu agama perlu dijadikan pondasi dalam menghadapi berbagai tantangan yang kini ada.

Kedua, radikalisasi dan terorisme yang menyalahgunakan ajaran Islam. Pada masa ini, dengan pemberitaan yang buruk di media massa, banyak teroris yang dengan mudah mengatasnamakan jihad untuk membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Inilah yang patut diwaspadai. Kaum santri sejak dahulu sudah mencatatkan citra baiknya sebagai kekuatan utama dalam melawan penjajah Belanda dengan semangat jihad. Tentu hal ini akan ternodai jika perbuatan menembak atau mengebom warga sipil dikeramaian disebut sebagai jihad. Media massa pun perlu mengedukasi masyarakat dengan tidak menggunakan kata jihad dan atribut keislaman untuk menggambarkan sebuah aksi terorisme.

Kaum santri perlu memanfaatkan keunggulan yang tidak dimiliki oleh kalangan lainnya. Yakni, pemahamannya yang dalam akan agama Islam. Ketika kaum santri terjun di masyarakat, atau kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas dan mempelajari ilmu-ilmu umum, perlu dipelihara kedalaman ilmu agama yang dimiliki. Sehingga, inovasi dan pengabdiannya di masyarakat tidak membuatnya terlupa dari agama. Hanya dengan cara inilah, kemajuan bangsa Indonesia dapat diraih dan tetap menjadi bangsa yang beradab karena selalu berada dalam bingkai akhlaqul karimah.

Kini, hari santri telah resmi diperingati setiap tahun. Perlu kita pelajari lagi Resolusi Jihad yang dikeluarkan pada ulama dari NU yang tentunya masih relevan untuk kita pelihara semangatnya pada masa kini. Yang jelas, kaum santri merupakan golongan masyarakat yang tidak dapat dilepaskan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Dan akan mengkhianati sejarah, apabila kita kini tidak mengimplementasikan ajaran agama, terutama Islam dalam keseharian.

14681634_10205559809914490_3416538368715426567_n

Selamat Hari Santri Nasional 2016! Bangga menjadi santri, bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s