Perlukah kita melanjutkan sistem voting dalam pemilu?

Kemarin, saat berita kemenangan Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat tersiar ke seluruh dunia, kita terhenyak. Mengapa calon seperti Trump bisa menang? Saya pun berdiskusi dengan beberapa teman sampai timbul pada sebuah simpulan, apakah sistem voting pemilu masih perlu kita lanjutkan?

vote

Sistem pemilu saat ini masih mengadopsi dari budaya Amerika, yakni voting. Penentuan pemenang dari suatu kompetisi, dalam hal ini adalah pemilihan pemimpin suatu wilayah, dilaksanakan melalui pemungutan suara. Dengan demikian, untuk dapat menjadi pemenang, yang harus dilakukan adalah meraup suara terbanyak.

Permasalahan kemudian timbul dalam upaya perebutan suara terbanyak itu. Calon kemudian lebih memilih untuk mengeluarkan kebijakan yang populis ketimbang kebijakan yang benar-benar strategis.

Tidak selamanya kebijakan strategis yang dijalankan oleh pemerintah merupakan kebijakan yang populis, karena memang ada beberapa kebijakan yang manfaatnya hanya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Misalnya, dalam perbaikan mutu pendidikan, pembangunan infrastruktur, dan kebijakan perdamaian internasional.

Banyak masyarakat Amerika yang phobia dengan Islam, disambutlah oleh Trump dengan kebijakan anti-Islam. Ketidaksukaan dengan masyarakat Latin Amerika pun dijawab pula oleh Trump dengan melarang imigran asal Meksiko. Akhirnya, citra amerika yang selama ini cukup ramah terhadap imigran menjadi luntur. Terbukalah wajah mayoritas masyarakat Amerika, mereka masih cukup rasis juga seksis.

Kebijakan dari pemimpin yang dipilih melalui pemilu cenderung ingin terlihat populer. Kondisi ini menimbulkan tren pencitraan politik. Terlihat bagus di permukaan, namun belum tentu di kenyataan. Mereka juga cenderung menghindari kebijakan yang sebenarnya baik, tetapi tidak didukung masyarakat. Apalagi jika masih memiliki kesempatan untuk maju dalam pemilihan berikutnya, karena ingin dipilih lagi yang dilakukan adalah memperbaiki citra, bukan memperbagus kinerja.

Politik pencitraan akhirnya menjadi lumrah. Media massa diuntungkan. Kepada siapa pemiliknya memilih, dialah yang akan memiliki citra terbaik. Calon yang tidak mendapat tempat dari pemilik media tidak akan mendapat tempat pencitraan.

Sekalipun dalam sistem pemilu kita memiliki debat kandidat, apakah itu benar-benar efektif? Apakah semua pemilih akan melihat secara objektif jawaban dari tiap kandidat? Toh, kebijakan yang rasis pun masih dapat diterima. Inilah kelemahan jika kita diharuskan memilih calon, bukan memilih program. Kita terbelah untuk mendukung si A atau tidak sama sekali, bukan mendukung program X atau mengusulkan program Y.

Pemilu yang sering disebut sebagai pencarian calon terbaik pun menjadi diragukan. Tidak semua orang yang maju dalam pemilu merupakan yang terbaik. Calon yang cerdas, jujur, agamis, dan kompeten tidak akan bisa maju jika tidak memiliki dukungan orang banyak. Sebaliknya, calon yang tidak terlalu bagus, selama ia memiliki dukungan banyak, bisa maju dengan sedikit polesan pencitraan.

Memang, tidak bisa digeneralisir bahwa sistem pemilu hanya mengeluarkan pemimpin yang tidak baik karena pada faktanya pun ada pemimpin baik yang dihasilkan oleh pemilu. Akan tetapi, ada patutnya kita melihat kembali firman Allah Ta’ala,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلّا يَخْرُصُونَ

“Dan sekiranya kamu mengikuti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (kepada Allah)”

Al An’am | 116

Suara mayoritas tidak selamanya benar

Kebenaran dalam Islam tidaklah ditentukan oleh banyaknya pendukung, karena kebenaran itu mutlak datang dari Allah saja. Hal ini terjadi karena memang tidak semua orang memiliki rasionalitas dalam memilih, dan cenderung memilih dalam purbasangka semata. Ketidaktahuan akan sesuatu yang luas dan keluputan dari banyak informasi membuat tidak semua orang memiliki kompetensi yang sama. Tidak semua orang juga memilih karena alasan yang logis. Kecenderungannya, orang memilih untuk kepentingannya sesaat.

Musyawarah untuk mufakat

Dalam menentukan pimpinan, ada baiknya kita kembali kepada ajaran Islam yang juga disepakati oleh para pendiri bangsa ini sebagai bagian dari dasar negara kita, yakni musyawarah untuk mufakat. Musyawarah merupakan jalan terbaik karena mendengarkan semua pendapat dan mempertimbangkan semua usul. Tidak diperlukan dalam musyawarah sebuah pertarungan pendapat dan saling menjatuhkan. Sesama kandidat saling membantu mencarikan solusi untuk kepentingan bersama. Semua usul atas masalah dibahas bersama.

Pemimpin ditentukan dengan mempertimbangkan kompetensi yang dapat didiskusikan dengan transparan. Seusai pemimpin terpilih, tidak ada pihak yang merasa tersakiti karena sekalipun calon yang diusungnya tidak terpilih, program kebaikan yang diusulkan dapat tetap dilaksanakan. Tujuan bersama tercapai tanpa perlu ada pihak yang dikorbankan. Yang terjadi bukan kompetisi meraih kemenangan, tetapi kompetisi mengajukan ide kebaikan.

Hasil dari sebuah musyawarah adalah kata mufakat, yakni kesepakatan yang diterima dengan lapang dada dari semua pihak. Di Indonesia, pihak-pihak yang bermusyawarah sepatutnya merupakan perwakilan dari setiap golongan dengan proporsional. Hasil dari permusyawarahan itu disampaikan kembali kepada para konstituen dan tanpa pemaksaan sepihak. Pihak yang terpilih pun perlu merangkul pihak yang ikut mendukng. Pada akhirnya, yang terjadi ialah saling mendukung, bukan saling menghujat.

 

Sudah saatnya kita mengevaluasi lagi, perlukah sistem pemilu tetap dipertahankan sementara pengalaman yang dirasakan justru memunculkan calon-calon yang sekadar populis, dan belum tentu berkapabilitas.

Sudah saatnya pula kita kembali pada metode kita, musyawarah untuk mufakat. Agar fokus kita bukanlah memenangi pemilihan, tetapi berfokus membangun bangsa.

 

Kebenaran itu bukan dari banyaknya manusia, tetapi dari ketetapan Allah. Kebaikan itu bukan yang disebabkan oleh manusia, tetapi dari yang diberikan Allah.

Wallahu a’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s