Al Hurriyah

Ada sebagian orang yang menuhankan pemikirannya. Sampai-sampai segala sesuatu yang tak masuk di akal, ia akan tolak mentah-mentah. Dipuji orang yang berpikir, sekalipun pemikiran itu menyesatkan dari sisi keagamaan dan kemanusiaan.

Ada pula orang yang sama sekali menolak penggunaan akal. Ditolaknya penggunaan akal untuk berpikir karena menurutnya semua yang terjadi sudahlah diatur. Sehingga tak perlu berpikir dan berusaha sekalipun, ia dapat hidup. Maka apalah gunanya berpikir keras bila nafas pun masih bisa dihirup.

Kedua pandangan ini tidaklah tepat bila kita tinjau sebagai suatu pandangan hidup.

Pandangan pertama ia menuhankan akal dan mengakali ketuhanan. Dianggapnya indra dapat menjangkau segala kedalaman ilmu. Padahal, apa daya mata melihat mikroba tanpa bantuan mikroskop. Apa pula kekuatan telinga mendengar frekuensi radio bila tak ditangkap oleh mesin. Tidak dapat pula kulit membedakan kedua benda berbeda suhu, hanya paham panas dan dingin saja.

Indra manusia itu terbatas. Bila indra dan akal itu yang dijadikan standar kebenaran, maka tak akan ada sesuatu yang berada pada suatu standar kebenaran. Kemampuan indra dan ketajaman berpikir tiap orang berbeda.

Pandangan kedua yang memasrahkan keadaan itu pun tak bisa diterima sebagai sesuatu yang bisa dikatakan benar. Tak mungkin bisa berubah suatu keadaan, tanpa ada pengusahaan tangan dan karsa manusia. Dari situlah dikatakan tangan kitalah yang menjemput takdir.

Buya Hamka pernah berpendapat, terdapat dua syarat agar manusia dapat mencapai kemajuan. Hurriyatul fikri dan hurriyatul iradah. Kemerdekaan berpikir dan kemerdekaan berkehendak.

Manusia harus menggunakan akal agar mengolah apa yang ada di dunia ini mencapai taraf maslahat. Dengan berpikir, kehidupan ini tak statis, melainkan berjalan dinamis. Terdapat aneka macam warna pemikiran dari segenap manusia. Dari berpikir ini, tercapailah kemajuan teknologi, filsafat, dan peradaban.

Tak cukup berpikir, manusia pun harus berkehendak menjalankan pemikiran itu. Percuma jika hanya otak yang berpikir namun tangan tak bergerak. Kemajuan berpikir dan sigapnya tangan bergerak itulah yang dapat memajukan manusia.

Tak boleh ada satu orang pun yang membatasi dari dua kemerdekaan ini.

Meski demikian, sebagai makhluk yang berakal, paham akan sejarah peradaban, dan mengerti akan proses kemajuan, kita tak boleh menuhankan kedua kemerdekaan ini. Dua kemerdekaan ini adalah hak, namun padanya tidak ada kepatutan menjadikan kita tak mengakui adanya kekuasaan Allah.

Orang yang tak mau mengakui adanya kekuasaan Allah dalam berbagai sisi kehidupan, adalah orang yang teramat sombong. Ia tak mau mengaku, bahwa ketika ia dahulu hanyalah setetes mani yang hina bercampur dengan sebutir sel telur di dalam kandungan, ada kehendak Allah akan terjadinya pembuahan. Ia pun tak mau tahu, bahwa ketika ia mengalami perkembangan menjadi zigot, morula, blastula, hingga menjadi janin, pembelahan sel itu adalah atas kehendak Allah. Ia tak mau mengaku, bahwa di setiap jemari manusia, terdapat sidik yang berbeda yang padanya ada atas ketentuan Allah. Ia tak mau mengakui, bahwa ketika otaknya dapat berfungsi untuk berpikir, milyaran sel berjalan tanpa ia perintah! Hanya Allah yang mampu mengatur itu semua.

Jika kita belajar, kemudian dalam pembelajaran itu muncul keraguan atas kekuasaan Allah, maka ada yang salah dalam pembelajaran itu.

Belajar yang hanya memajukan ilmu namun tak menuntut adanya iman dan amal akan menjadikan peradaban ini kembali dalam masa jahil. Seolah pintar namun aslinya bodoh.

Belajar pada hakikatnya ialah membuka pintu-pintu daripada khazanah ilmu. Maka, apabila semakin ia berisi, maka akan semakin tampak keagungan Allah yang memiliki samudera ilmu. Pantaslah orang yang cerdas itu ditinggikan derajat, karena pada dasarnya kita ini tak tahu kemudian menjadi tahu. Dari tahu itu kemudian timbul rasa ingin beramal. Pada amal yang ikhlas itulah kemudian timbul iman. Percaya dan yakin bahwa ada dzat Maha Agung yang telah mengatur. Dialah Allah.

Maka, bila belajar kita masih untuk sekadar mengisi. perut dan memenuhi otak, perlulah kita evaluasi lagi. Tambahkan, bahwa selain perut ini terisi dan otak terpenuhi, ada hati yang mesti dituruti.

Menjadikan hati dan diri ini tunduk kepada Ilahi, itulah hakikat belajar dan pemenuhan atas hak kemerdekaan berpikir dan berkehendak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s