Pemimpin Itu…

Kang, yang namanya pemimpin tuh kudu tegas, jadi galak-galak sedikit gak apa. Yang penting jujur dan bersih”

“Ah, gak bisa gitu, mas. Masak iya jadi pemimpin harus marah-marah di depan banyak orang. Bukan tegas itu mah, tapi memalukan. Menurut saya sih, pemimin itu harus penyayang”

Mendingan mana galak tapi bersih daripada sopan tapi korup?”

“Wah, gak setara lah mas perbandingannya…”

“Tapi kenyataannya kan gitu sekarang”

Itulah salah satu perbincangan yang pernah saya dengar mengenai gaya kepemimpinan yang diidamkan oleh masyarakat. Semua orang tentu memiliki keinginan tersendiri mengenai sosok pemimpin yang ideal. Namun, terdapat kesamaan yang setidaknya dapat kita lihat dari semua pendapat atas pemimpin yang ideal. Yakni, pemimpin tersebut haruslah jujur, amanah, dan bersih.

Kita kini sering memperdebatkan mengenai perangai yang paling pas untuk menjadi seorang pemimpin. Ada yang mengatakan pemimpin itu haruslah lemah lembut dan ujarannya penuh sopan santun. Di pihak lain, banyak yang tidak senang dengan perangai yang demikian. Dianggapnya orang yang tutur katanya lembut menjadi lemah dalam menegakkan hukum.

Ada pula yang menginginkan seorang pemimpin itu tegas dan berani. Sayangnya, sosok yang sering dijadikannya contoh sebagai pemimpin yang tegas dan berani tersebut cenderung pada orang yang meledak-ledak dan pemarah. Perangai yang demikian pun diragukan keefektivan kepemimpinannya. Orang yang pemarah cenderung sulit berpikir jernih. Lebih jauh lagi, pemimpin yang bermodalkan galak semata hanya akan membuat jajaran anak buahnya patuh pada saat dilihat dia saja, karena tidak ingin dipermalukan di depan teman-temannya. Tidak sampai menjadikan kesadaran dalam bekerja itu haruslah jujur dan bersih.

Terdapat juga sekelompok orang yang menginginkan pemimpin yang bersahaja. Pemimpin itu ibarat seorang bapak yang mengayomi anak-anaknya dengan wibawa. Kesahajaannya diharapkan mampu menjadikannya sosok yang disegani baik oleh rakyatnya maupun dari pihak lain. Selain itu, ada pula yang ingin pemimpin itu seorang yang cerdas. Akalnya cemerlang dan ilmunya tinggi. Pemimpin semacam ini diidamkan karena pemimpin yang cerdas dianggap akan mencerdaskan rakyatnya.

Sebenarnya, pemimpin itu harus seperti apa sih?

Pertama-tama, yang disebut pemimpin itu harus punya visi yang jelas. Tujuan dari kepemimpinannya jelas, dan jalan yang akan ditempuh untuk tujuan itu juga harus jelas. Dengan visi yang jelas, arah kepemimpinannya pun menjadi jelas. Apa yang ingin dicapai selama periode kepemimpinannya dapat dipertanggungjawabkan. Orang-orang yang berada di bawahnya pun dapat memahami, apa kiranya tugas yang harus dituntaskan di bawah kepemimpinannya.

Pemimpin suatu perusahaan harus jelas, apa target yang harus dicapai selama ia menjabat sebagai direktur. Pemimpin suatu wilayah juga harus jelas, apa capaian kemajuan daerahnya yang harus dicapai selama masa kepemimpinannya. Akhirnya, visi dan tujuan yang dimiliki oleh pemimpin ini dapat dijadikan tolok ukur keberhasilannya selama masa kepemimpinannya. Semakin banyak tujuan yang ditetapkannya tercapai, semakin tinggi keberhasilannya.

“Leadership is having a vision, sharing that vision, and inspiring others to support your vision while creating their own (Mindy Gibbins-Klein, founder REAL Thought Leader)”

 

Kedua, pemimpin yang baik ialah yang mampu menjaga komunikasi dengan yang dipimpinnya. Komunikasi yang baik kunci terbentuknya teamwork yang baik. Kemampuan menyampaikan tujuan yang ingin diraih dan membangun kerjasama tim yang baik harus dimiliki. Komunikasi yang buruk hanya akan menimbulkan mispersepsi. Akhirnya, sang pemimpin hanya bisa marah-marah karena tujuannya tidak tercapai, sedangkan yang dipimpin merasa heran mengapa hanya dimarahi tanpa ada alasan yang jelas.

Membangun komunikasi antara pemimpin dan yang dipimpin sebenarnya merupakan sebuah seni tersendiri. Bagaimana menjadikan pemimpin tidak tampak menjadi seorang yang bossy tetapi tidak menghilangkan wibawanya di hadapan orang yang dipimpin. Dengan komunikasi yang baik pula, rasa patuh terhadap pemimpin dapat dibangun dan tidak menjadikan tugas yang diberikan itu sebagai beban.

“Leadership is influencing others by your character, humility, and example (Sonny Newman, president EE Technologies)”

 

Ketiga, pemimpin yang baik pandai dalam mencari masalah dan cerdas memberi solusi dari masalah yang dihadapi. Sebuah kekeliruan jika pemimpin hanya mampu mencari-cari masalah, kemudian penyelesaiannya diserahkan kepada anak buahnya sementara ia lepas tangan. Kalau masalah itu tuntas, dia dengan bangga menyebut prestasinya, sedangkan jika masalah itu tidak selesai ditangani, ia menyalahkan anak buahnya. Itu bukanlah mentalitas problem solver, tetapi hanya sebagai problem maker, bahkan part of the problem itself.

Masalah yang dihadapi dalam sebuah kepemimpinan bukan berarti dijadikan alasan untuk merusak kerjasama yang telah dibangun. Alih-alih merenggangkan, pemimpin yang cerdas akan menjadikan masalah sebagai alat untuk menyatukan anggota timnya. Seringkali diungkap, masalah itu hadir bukan untuk menjadikan seseorang lebih buruk, tetapi untuk menjadikannya naik ke kelas yang lebih tinggi. Jadi, pemimpin yang baik bukan mempermasalahkan masalah, apalagi menyalahkan masalah, tetapi menjadikan masalah itu sebagai solusi untuk tujuan yang lebih baik. Jangan sampai ketika masalah itu datang, diserahkan semua kepada bawahannya, lantas mengancam kalau masalah itu tidak tuntas, “gua pecat lu”.

“Leadership is the ability to see a problem and be the solution  (Andrea Walker-Leidy, Owner Walker Publicity Consulting)”

 

Keempat, pemimpin yang baik memiliki mentalitas kepemimpinan yang baik. Indikatornya, ia jujur, terbuka, mau dikritik, siap untuk bangkit setelah jatuh, dan rela berkorban untuk tujuan yang lebih baik. Sikap jujur menjadi salah satu kunci kepemimpinan yang baik. Jujur melihat kekurangan diri sendiri dan menerima kelebihan orang lain, sehingga dipergunakannya untuk memperbaiki diri dan tim. Kejujuran semacam ini menjadi penting, karena tidak mungkin ada orang yang bersih dari kesalahan, tetapi orang yang jujur ialah yang mampu menyadari kesalahan dan memperbaiki kealpaan tersebut.

Mentalitas pemimpin yang baik akan memberikan pengaruh kepada tim yang sedang dipimpinnya. Energi positif yang dimiliki oleh seorang pemimpin akan menyebar kepada yang dipimpin. Sebaliknya, pemimpin yang selalu menebarkan energi negatif, justru hanya akan bisa menjadikan anak buahnya jumud, pusing, dan kesal. Pada akhirnya, energi kebaikan yang disebar oleh pemimpin ini mampu membentuk kerjasama yang apik antara sang pemimpin dan yang dipimpin.

“Leadership is about three things: to listen, to inspire, and to empower (Larry Garfield, president Garfield Group)”

Inilah kepemimpinan yang telah dicontohkan oleh Sang Pemimpin Umat, Muhammad Saw. Kepemimpinan dibangun dengan sifat Shiddiq, yakni mentalitas jujur, penyebar energi positif, dan inisiator kebaikan. Pemimpin itu haruslah bersifat Tabligh, yakni seorang penyampai pesan yang baik, komunikatif, dan egaliter. Kepemimpinan itu harus dibangun dengan sikap amanah, yaitu dapat memegang kepercayaan serta menjadikan kepercayaan itu modal untuk membangun kerjasama tim yang baik. Terakhir, seorang pemimpin harus Fathanah, yakni memiliki kecerdasan yang dapat dipergunakan dalam menghadapi masalah dan menjadi solusi dari permasalahan tersebut.

Setidaknya, itulah kepemimpinan yang harus kita bangun saat ini. Haruskah pemimpin itu galak dan sering marah-marah? Rasanya tidak perlu, karena seringnya marah tanda ada ketidakberesan dari kepemimpinannya. Yang diperlukan dari pemimpin sebenarnya ketegasan dalam bersikap, bukan emosi dalam memarahi yang lain. Haruskah pemimpin itu terlihat lemah? Tentulah tidak, pemimpin yang baik itu bukan yang terlihat lemah, tetapi yang menguatkan seluruh anggota tim. Haruskah pemimpin itu terlihat bossy? Jangan, karena pemimpin itu harus membangun leadership, bukan kepatuhan yang membutakan.

Terakhir yang perlu kita sama-sama perhatikan dengan cermat. Belajarlah untuk menjadi pemimpin. Setidaknya, kita memiliki kemampuan untuk memimpin diri sendiri menuju arah kebaikan dan kebenaran. Persiapkanlah, sebagaimana yang telah Baginda Rasul sabdakan, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”.

Sudah siapkah kita menjadi pemimpin yang baik dan mempertanggungjawabkan kepemimpinan tersebut?

Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan di Selasar, pada 18 November 2016

http://jurnal.selasar.com/politik/pemimpin-itu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s