Resolusi Tahun Ini: Kuliah di PTN Impian

IMG_20160924_130418.jpg

Resolusi 2017: Kuliah di PTN Impian
*tulisan ini saya khususkan untuk adik-adik kelas 12
Salah satu impian tiap-tiap anak SMA di Indonesia adalah kuliah di PTN alias Perguruan Tinggi Negeri. Banyak alasan kenapa mereka mengejar PTN. Mulai dari gengsi universitas terbaik di Indonesia, idealisme kuliah dan ingin jadi mahasiswa, ada juga yang karena dititahkan oleh orang tua. Berikut sekelumit ulasan mengenai impian ini…
Kuliah di mana ya?
Banyak anak kelas 12 yang bingung ketika ditanya, “kamu mau kuliah apa? Di mana?”. (Termasuk saya sih dahulu… hehehe). Kenapa bingung? Setidaknya ada tiga alasan akan kebingungan ini.
Pertama, gak tau jurusan, fakultas, bahkan universitas yang ada. Banyak orang yang terkungkung dengan “dogma” jurusan kuliah itu kalau gak kedokteran, teknik, ya hukum. Selain itu aneh-aneh deh. Padahal, jurusan di kampus di Indonesia itu variatif banget. Sewaktu saya lagi mencari-cari jurusan, ternyata saya baru temukan ada jurusan-jurusan yang terdengar aneh. Ada silvikultur, sistem informasi, keperpustakaan, bahkan ilmu keluarga. Selain jurusan, ternyata banyak orang yang tidak tahu nama-nama universitas negeri yang ada di Indonesia. Di Jawa Barat misalnya, ada universitas Siliwangi, universitas Singaperbangsa, juga universitas ITB cabang cirebon (jadi ITBC aja atuh lah yaa… 😂😂). Nah, karena tidak tahu tentang jurusan, fakultas, dan universitas ini, akhirnya menyulitkan memilih tujuan kuliah.
Kedua, tidak tahu diri. Waduuh, maksud?? Maksudnya tidak tahu diri itu tidak tahu akan kemampuan diri. Ada anak yang jago matematika, tapi karena dia “alergi” dengan fakultas MIPA, akhirnya maksa-maksa masuk ke Kedokteran. Pas kuliah di kedokteran, pusinglah saat disuruh menghapal anatomi, dsb. Ada juga anak yang sebenarnya di berhitung tidak jago-jago banget, malah dia bagus dalam public speaking, bersosialisasi, dan menghapal tapi karena dia gengsi tidak mau masuk ke jurusan “Soshum”, akhirnya dia masuk ke Teknik. Akhirnya, pas kuliah gak betah karena memang bukan itu dunianya. Nah, dari dua contoh ini, penting banget nih buat kita tahu dengan kemampuan diri kita yang sebenarnya. Kalau memang bukan jagonya menghapal, jangan coba-coba deh masuk ke jurusan Biologi, Hukum, ataupun Sastra. Kalau memang alergi melihat angka, jangan juga maksa masuk ke teknik, akuntansi, apalagi jurusan matematika.
Ketiga, tidak tahu aturan. Nah, ini yang agak sulit. Karena memang aturan penerimaan mahasiswa baru di Indonesia ini bisa dibilang belum ajek alias masih labil alias belum pasti. Hampir tiap tahun ada perubahan. Baik kuota jalur undangan, jalur SBMPTN, juga jalur mandiri ataupun aturan kuota berapa persen siswa yang berhak ikut undangan. Nah, untuk masalah ini cara terbaiknya itu sering-sering tanya ke guru atau kepala sekolah dan JANGAN PERCAYA sama berita-berita HOAX yang biasanya dikabarkan oleh oknum tertentu yang ingin mencari kesempatan di balik kesulitan. Kalau ada kabar berita, cek keaslian beritanya. Paling mudah, lihat website resmi snmptn, sbmptn, dan kemenristekdikti.
Nah, itu baru tiga alasan kenapa kita bingung mau kuliah di mana. Jurusannya aja gak tau, gimana mau tau bakalan kuliah di mana. Sama kemampuan diri sendiri aja gak paham, gimana bisa milih tempat kuliah yang cocok. Sama aturan yang seneng berubah-berubah itu aja jarang dikepoin, gimana mau tau proses seleksinya.
Solusi dari tiga masalah itu cuma satu. Banyak-banyak cari informasi yang resmi dan akurat. Baca berita di situs yang valid, jangan di blog orang (meski tulisan ini juga di blog sih, tapi yasudah gak apa. Bukan berita kok. Hehehe). Banyak baca kemampuan diri sendiri. Bisa ikut tes psikologi, tes sidik jari, dan tes hati (eaa. Maksudnya tes di mana hati ini nyaman untuk belajar).
Nah, kita beranjak ke pertanyaan yang berikutnya
“Kamu udah siap buat ikut SBMPTN, SIMAK, UM, dan kawan-kawannya?”
Waduh. Ini pertanyaan yang nyelekit. Emang sih kita udah tau mau kuliah ke fakultas Hukum UGM. Tapi, asal SMA nya IPA. Belajar IPS cuma tahu ada sejarah. Itu pun sejarah untuk dilupakan biar bisa move on.
Naah, ada nih beberapa hal yang harus diketahui buat para pejuang ujian tulis…
Pertama, jangan sibuk mikirin soal apa yang bakalan keluar, susah atau susah banget, dan strategi “nembak” jawaban. Soal SBMPTN susah? Itu adalah KEPASTIAN. Nah, karena sudah pasti susah, jangan mengharap untuk diberikan soal yang mudah, karena itu adalah ketidakpastian. Berharaplah bisa melewati ujian yang sulit itu. Yang wajib musti kudu harus dilakukan sih berdoa. Nah, biar doa itu bisa manjur, jangan dilupakan usaha. Usahanya gimana? Pergi ke dukun? Beli pensil ajaib? Atau cari yang jualan kunci jawaban? SALAH! Usaha terbaik adalah BELAJAR, BELAJAR, dan MENGAJAR.
Wait. Kok ada mengajar?
Jadi begini, ilmu yang kita pelajari itu biar makin menempel di otak kita, cara terbaiknya adalah menyampaikan lagi ilmu itu. Ilmu yang dibagi itu gak bakalan berkurang, malahan makin mantep berlabuh di kepala kita. Jadi, kalau udah belajar jangan pelit untuk ngajarin orang lain. Siapa tau, dari doa temen kamu yang diajarin itu bisa menjadi asbab teringat lagi materi itu pas lagi ujian.
Kedua, biasanya masalah yang akan dihadapi adalah “minder”. Minder karena liat temen-temen yang lain ternyata bisa bagus nilainya sedangkan kita sendiri kok gak bisa terus pas ngerjain tesnya. Apalagi bakalan tambah minder setelah pengumuman SNMPTN undangan. Waduh, yang lain udah pada dapet kampus, bahkan yang rankingnya di bawah, anak-anak yang rankingnya atas justru ada yang belum dapet. Minder pun makin menjadi. Nah, buat mengatasi keminderan ini, sebenarnya mudah. FOKUS aja sama belajar dan mengejar. Gak usah liatin orang yang males belajar, eh tiba tiba malah dapet kampus duluan. Toh, kalau memang nasib dia begitu, gak bisa kita halangi dari takdir dia. So, stay FOKUS on your goal.
Ketiga, bingung dengan soal SBMPTN, SIMAK, UM, dsb. Wah, kenapa harus bingung? Susah ya? Memang susah! Tapi, kalau kita dari awal gak mikirin susahnya, tapi mikirin nikmatnya kuliah, baru deh susahnya hilang. Nah, biar kita gak ngerasa susah, biasain kerjain soal-soal yang susah. Setelah UN dan sebelum SBMPTN, gak usah kelamaan libur. Satu dua hari rehat setelah UN, boleh. Tapi setelah itu, langsung ambil buku, pergi bimbel, cari guru, dan BELAJAR. Cari soal soal dari 5 tahun terakhir. Libas habis semua tuntas dikerjakan dan dibahas. Jangan pilih-pilih, semua pelajaran dipelajari. Capek? Pasti. Tapi bakalan lebih capek lagi kalau gak dapet kampus.
Keempat, bingung pilih jurusan. Yang kita mau ternyata ketinggian, mau realistis tapi gak suka, mau cari aman tapi takut salah jurusan. Naah, ini penyakit yang susah disembuhkan. Kuliah mau, tapi gak tau mau kuliah apa dan di mana. Memang sih, kita harus realistis, tapi apa gak boleh kita mimpi? Caranya bagaimana? BUAT PLAN ABC. Apa tuh? Bikin perencanaan dari pilihan paling idealis, sampai realistis. Semua disebar di tempat yang sesuai dengan jurusan yang sesuai. Misalkan, mau SBM ITB, tapi karena itu terlalu tinggi, akhirnya pilih juga SB IPB. Mau yang lebih realistis lagi, Agribisnis Unpad. Nah, kelihatan kan polanya yang sama-sama ada bisnisnya tapi dengan jenjang keketatan yang berbeda?
Kelima, takut lihat passing grade. Tiap try out kok rasanya bagai ikan terbang melayang alias gak mungkin. Padahal, udah banyak soal yang bisa dikerjain. Akhirnya, kita melihat passing grade yang dibawah karena biar lebih realistis. Eh, ternyata pas lihat passing grade di bimbel sebelah beda. Ada yang pakai angka, ada yang pakai huruf. Nah, mau tau rahasia gak nih??? Sebenarnya, penerimaan mahasiswa di PTN itu TIDAK BERDASARKAN PASSING GRADE.
Waduh, dibohongin bimbel dong?
Bukan begitu, passing grade itu sebenarnya hanya panduan memilih jurusan aja. Biar terlihat, di mana sih kemampuan kita yang sebenarnya. Jadi, jangan terlalu jauh dari kemampuan, dan akhirnya malah tidak tercapai yang kita inginkan.
Trus, yang bener bagaimana?
Nah, penerimaan mahasiswa itu menggunakan sistem KUOTA. Misalkan, HI UI menetapkan jumlah mahasiswa yang diterima melalui SBMPTN adalah 20 orang. Nah, dari 2000 pendaftar SBMPTN yang memilih HI UI, akan diperingkatkan 1-2000. Kemudian, dipotong 20 terbaik dan itulah yang diterima. Jadi, bukan dengan nilai minimal. Kalau pakai nilai minimal, logikanya ketika ada banyak yang lebih tinggi, akan terlalu banyak kursi yang harus disediakan. Atau justru ketika tidak ada yang lulus, maka gak ada dong yang masuk ke jurusan itu. Jadi, yang paling bisa kita jadikan patokan adalah keketatan. Misal, dari kasus tadi 2000 orang mendaftar untuk 20 kursi. Artinya, 1 kursi diperebutkan oleh 100 orang dan peluang kita 1% untuk bisa dapet kursi itu.
Keenam, ketakutan. Ini dia penyakit terbesar kita, takut sebelum mencoba, mundur sebelum maju. Akhirnya? Maju nggak, malah mundur. Apa sih yang kita takutin? Soal? Udah pasti susah! Saingan? Udah pasti banyak seluruh Indonesia! Nah. Kita udah tahu apa tantangan, dan udah tahu bakalan sulit. Kalau begitu, tunggu apa lagi? PERSIAPKAN DARI SEKARANG! Jangan tunggu besok, karena besok pun akan jadi besoknya lagi sampai ternyataa besok udah hari H ujian.
Bingung mulai dari mana?
Ingat kata Aa Gym. Mulai dari SEKARANG, mulai dari DIRI SENDIRI, mulai dari YANG TERKECIL.
Nah, dari sekarang mulai dicicil buku persiapan SBMPTN. Jangan cuma dibeli dan dijadiin bantal saking tebelnya. Dibuka, dikerjain, dicek sama kinci jawabannya. Kalau masih bingung, tanya teman yang lebih paham atau guru.
Dari pelajaran apa dulu? Mulai dari yang kita prioritaskan. Kita buat di pelajaran mana kita bisa paling banyak kerjain. Kita maksimalin di situ. Buat target. Misal, matematika dasar harus bisa kerjain 7 dari 15 dalam waktu seminggu. Dalam seminggu, harus kita maksimalin belajar matdas. Dari habis subuh sampai menjelang tidur jangan tinggalin tuh matdas. Nah, baru setelah target tercapai, bikin target baru.
Duh, pasti stress kalau begitu sih. Ini harus kita perhatikan nih. Jangan mikirin stress padahal kita belum mulai. Belajar aja belum, stress akibat belajar udah dipikirin. Akhirnya, kita stress karena mikirin stress bukan karena belajar. Pas belajar pusing? Gak masalah! Nikmatin aja. Gak mungkin kita bisa sukses tanpa ada susah. Kalau kata orang inggris, No Pain No Gain brader! Tugas kita kan belajar, bukan stress. Kalau misalkan kepala udah ngebul karena lelah baca teks bahasa indonesia yang panjang itu, stop dulu. Berhenti 5-10 menit. Trus? Belajar lagi bukan malah main ya…
Nah, yang satu ini gak boleh ketinggalan. DOA. Halah, hari gini masih percaya doa? Weitss. Jangan salah! Doa itu yang bisa merubah takdir! Kenapa? Karena takdir kita kan diatur Allah. Nah, biar kita bisa dapet sesuatu yang kita mau, mintalah sama yang Maha Menentukan Takdir. Percaya deh, doa itu yang memudahkan kita. Jangan lupa juga, doain temen-temen seperjuangan biar sukses juga. Lho, berarti nambah saingan? Nggak! Kita bakalan didoain yang plus plus sama malaikat kalau kita doain kebaikan buat orang lain. Gak ada ruginya kita doa. Toh, kita gak perlu bercucur keringat dan bermandikan peluh. Cukup angkat tangan dan bermunajat. Setiap waktu dan di setiap tempat kita bisa berdoa.
So, tunggu apa lagi? Banyakin DOA, Banyakin USAHA. Ingat, tugas kita bukanlah menentukan takdir, tetapi menggenapkan usaha.
Udah, segitu aja. Semoga sukses dan jangan pernah berhenti bermimpi, berdoa, dan belajar! Life is wonderful!
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s