Iqro, Tak Sekadar Membaca

penuntut-ilmu

Semasa masih bersekolah di tingkat dasar dan menengah, hingga kini menempuh kuliah di universitas, tampaknya ada pertanyaan klasik yang selalu diajukan pada berbagai kesempatan, khususnya pada saat akhir semester. “nilaimu berapa?”, “dapat peringkat berapa?”, juga “masuk ke kelas unggulan kah?”.

Menurut saya, pertanyaan ini masih menunjukkan apa orientasi kita, yakni hasil daripada usaha. Padahal, belajar ialah sebuah proses usaha mendapatkan ilmu, bukan sekadar hasil angka dan ranking semata.

Bila kita mau membuka kembali ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, ada beberapa hal penting yang tampaknya bisa kita amalkan dalam proses belajar.

إِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ

“Bacalah, dengan menyebut nama Rabbmu yang telah menciptakan”

Terdapat tiga kata kunci yang perlu kita perhatikan,

Pertama, IQRO, bacalah.

Membaca ialah proses awal dari belajar. Tak sekadar membaca dengan mata berupa teks-teks literatur, membaca itu perlu pula memanfaatkan segala indera. Pada hakikatnya, membaca di sini ialah memasukkan informasi, ilmu, dan pengamatan kepada otak manusia. Apa yang ditangkap oleh mata, tak dilewatkan begitu saja namun dimasukkan ke dalam memori. Apa yang didengar oleh telinga, tak sekadar masuk telinga kanan keluar telinga kiri, tetapi ada proses penalaran. Apa yang dirasakan oleh kulit, tak cukup bila dipegang saja, melainkan ada proses berpikir.

Membaca ini dalam arti luas adalah belajar. Mengamati ciptaan, menghayati kejadian, dan mengambil hikmah.

Kedua, BISMI ROBBIKA, dengan menyebut nama Rabbmu

Proses membaca harus diiringi dengan mengingat Allah. Saat melihat adanya suatu keajaiban penciptaan, maka ingatlah bagaimana Sang Pencipta itu menciptakannya. Mengamati alam dan fenomena sosial tanpa mengingat Allah yang mengaturnya, akan menjadikan analisis kita sebatas duniawi saja. mungkin manfaat, tapi tak langgeng kebermanfaatan itu sampai pada akhirat. Sedangkan, kita sebaiknya menjadi orang yang visioner tak hanya pada urusan dunia, melainkan sampai pada kehidupan akhirat yang abadi. Ini hanya bisa dilakukan bila kita belajar sembari mengingat Allah.

Suatu kesalahan bila kita mendengar ‘meletakkan Tuhan di luar pintu kelas’ hanya karena ingin menjadi bebas pada berpikir. Padahal, dalam beragama, kebebasan berpikir, hurriyatul fikri, diperbolehkan. Hanya  saja, apa yang dipikirkan itu tak patut bila sampai melupakan Allah yang memberikan izin kita mampu berpikir. Pikiran seorang yang beragama dapat bebas menjangkau berbagai macam sisi kehidupan, namun ia selalu mengaitkan bahwa apapun yang terjadi ialah atas kuasa Allah.

Kepemilikan kita atas ilmu tak boleh bila sampai pada menuhankan diri sendiri. Tetapi harus sampai pada tahap mengembalikan ilmu yang ada kepada Allah, karena pada hakikatnya ilmu itu hanyalah titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban di hari kemudian.

Terakhir, ALLADZII KHOLAQ, yang telah menciptakan.

Inilah yang menjadi tujuan kita berpikir. Mengingat betapa dahsyatnya ciptaan Allah. Betapa hebatnya pengaturan Allah atas alam semesta ini. Betapa besarnya kuasa Allah menggerakkan manusia menjadi berbagai macam aneka warna kulit, suku, bahasa. Bahkan tak ada satu pun orang yang nasib, pikiran, dan jalan hidupnya sama dengan orang lain sekalipun ia anak kembar identik. Bila kita telah menyadari ini, maka yang seharusnya terlintas di dalam otak kita ialah bagaimana mengambil hikmah atas penciptaan.

Mengambil hikmah atas penciptaan bermakna kita harus menjaga, merawat, dan berinovasi untuk menjaga kelestarian alam dan keteraturan sosial. Bagaimana kita hidup berdampingan sesama manusia dan sesama makhluk Allah. Inovasi menjadi kunci, bahwa apa yang kita tadi amati, kemudian analisis, harus sampai pada bagaimana kita menciptakan sesuatu yang baru untuk semakin melengkapi kesempurnaan ini. Diciptakannya alam semesta dan manusia sebagai khalifah tentu bukan tanpa tujuan, melainkan ada cita-cita besar yang harus dicapai. Untuk mencapai tahap itu, perlu adanya olah pikir yang cermat agar memanfaatkan segala apa yang telah diberikan menjadi lebih bernilai di mata manusia dan Allah.

Ilmu tidak sekadar dicari keberadaannya, melainkan harus sampai dicari hikmahnya. Ilmu tak sekadar dihapal, namun disebarkan kebermanfaatannya. Ilmu tak sekadar dipelajari yang sudah ada, tetapi juga berinovasi menciptakan hal-hal baru yang lebih tepat guna.

Dapat dilihat, bahwa pada hakikatnya belajar itu ialah sebuah proses membuka cakrawala ilmu. Maka, jangan sampai kita tertipu pada nilai-nilai di atas kertas rapor dan ijazah. Tetapi, haruslah sadar bahwa belajar itu melalui membaca, mendengar, mengamati, menghayati, bertukar pikiran, hingga meneliti. Itulah proses belajar yang seharusnya kita lakukan. Tak cukup pada hasil, namun menitikberatkan pada proses. Sehingga, bukan lagi ‘berapa nilainya’ pertanyaan yang muncul, justru ‘baca buku apa’, ‘belajarnya bagaimana’, dan ‘apa doanya’.

Pada akhirnya, dunia ini ialah khazanah ilmu Allah yang amat luas. Dibukanya kunci-kunci khazain ilmu itu melalui para cerdik cendikia dan ulama. Namun, tak boleh dilupa bahwa sang pemilik khazain dan penggerak kunci itu ialah Allah Ta’ala. Demikianlah seharusnya kita memandang Iqro, tak sekadar membaca namun mendalami samudera ilmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s