Syaja’ah

truthBerani mempertahankan kebenaran dengan hati, lisan, dan perbuatan serta dalam setiap keadaaan, itulah Syaja’ah sebagaimana yang Buya Hamka gambarkan. Sikap ini, tampaknya yang semakin luntur dari masyarakat kita sekarang. Banyak yang rela berjuang mati-matian bukan terhadap kebenaran, tapi pada orang yang mencari pembenaran atas kesalahan. Sampai-sampai mengenyahkan kebenaran demi sebuah kesempatan.

Sikap syaja’ah ini amat penting untuk kita jaga. Menjaga sebuah nilai kebenaran bukan karena ingin dipuji orang, karena memang puja puji orang lain itu mudah sekali berbalik arah bergantung keadaan. Menjaga kebenaran pun bukan karena ingin disebut pahlawan, karena sebuatan pahlawan kembali bergantung pada cara pandan. Menjunjung kebenaran karena memang itulah yang Allah suka. Itulah posisi syaja’ah yang sebenarnya.

Betapa banyak orang yang rela menghinakan dirinya sendiri, hanya karena mengincar jabatan. Menduakan muka, memalingkan wajah hanya karena ingin mendapat penghormatan. Setelah jabatan diraih dan setiap senin pagi ia dihormat, hilang kecondongannya pada kebenaran. Condonglah ia pada kekuasaan.

Bagi para pendahulu kita, syaja’ah merupakan sebuah semangat juang. Biarlah ia mati asalkan kebenaran itu tetap tertegak. Lihatlah bagaimana Sultan Hasanuddin hingga Pangeran Fatahillah menolak bersungkur pada pemerintah kolonial Belanda. Mereka pun mati dalam segala kehormatan. Sebab, dipertahankannya kebenaran, yakni penjagaan atas tanah kelahiran, bukan sudi mencari kekuasaan dengan memperdagangkan kehormatan. Penghormatannya pun abadi, hingga kini.

Syaja’ah terbukti menjaga muruah, kehormatan diri. Biarlah ia mati, asalkan ia berada pada pihak yang benar. Daripada melarikan diri hanya karena takut mati, sampai menanggalkan kehormatan diri.

Kini, sifat syaja’ah perlu kita hidupkan kembali. Berani karena mengikuti benar, bukan karena mengikuti arus yang besar. Tak mau tunduk pada kebanyakan orang yang jelas-jelas salah, sebab pada dirinya bukan pribadi yang latah, namun pribadi yang syaja’ah.

Betapa banyak manusia di masa kini begitu mudahnya membebek pada Barat, dan merasa malu bila menunjukkan identitas Islam. ‘International minded’ itu hanya apa yang menurut Barat. Berpikiran terbuka kalau mengikuti pola pikir Barat. Menjadi modern kalau membangun dengan cara Barat. Menjadi gaul kalau bergaul a la Barat. Berpendidikan kalau ikut pendidikan Barat. Seolah-olah dunia ini hanya berkiblat pada Barat.

Memang, tak dapat dipungkiri Barat mengalami kemajuan. Namun amat picik bila menganggap Barat itulah standar atas kemajuan.

Banyak pula yang berlindung dalam frasa ‘menjaga budaya’ padahal mengenyahkan agama. Padahal, bila ingin benar-benar menjaga budaya, tidaklah ia mau duduk berdua berlain kelamin bersebelahan. Itu tabu menurut budaya kita. Hanya karena mengenakan gaun beraksen tenun di ujung, dianggap menjaga budaya. Tapi malu berkain sarung dan bertudung peci, karena takut dianggap kolot. Padahal sama-sama budaya kita.

Mereka pun banyak yang menginginkan sekolah sistem Barat. Tak perlu diajar agama, karena itu cukup dalam keluarga. Tak perlu diajar adab, karena itu cukup dalam lingkup agama. Tapi, kalau mereka diajak sekolah di pesantren yang jelas-jelas sistem kita, menolak dengan alasan itu kuno.

Maka, budaya mana yang dibela?

Itu bukanlah syaja’ah, berani mempertahankan yang benar. Tapi hanya berani membebek yang besar, dan merasa diri bangsa sendiri kecil.

Membebek itu tak akan menjadikan kita maju. Namun hanya menjadikan kita ikut berturut. Mereka berlari ke kiri kita ikut, mereka masuk ke jurang kita turut. Sebab, yang dipikirkan hanyalah maju badannya, bukan maju jiwanya.

Jiwa dan raga ialah dua unsur yang saling berpaut. Kemajuan raga tanpa jiwa menjadikan gila, kemajuan jiwa tanpa raga menjadikannya mimpi belaka. Majulah jiwa, majulah raga, di dalam ranah kebenaran.

Mempertahankan kebenaran pun kini dijadikan pertanyaan. Kebenaran itu yang macam apa? Lagi lagi, bila hanya membebek Barat, kebenaran itu disandarkan pada orang kebanyakan. Inilah kebenaran yang rapuh. Sebab bila tempat bersandar itu berbalik, rubuhlah ia dan bergantilah posisi. Maka, di manakah kebenaran?

Kebenaran yang dibela oleh sifat syaja’ah ialah benar yang hakiki. Kebenaran yang dibawa oleh Allah, dan disebarkan oleh Rasulullah. Inilah kebenaran yang mmenyandarkan pada sesuatu yang kokoh. Ia akan teguh dalam berpegang, dan mantap dalam menghadang. Tak perlu waktu lama, ia akan melawan apa yang dilarang agamanya. Sebab ia yakin, itulah kebenaran yang patut dipertahankan.

Bila syaja’ah semacam ini telah tertegak, tidaklah lagi kita perlu takut akan konspirasi dan rencana jahat orang lain. Sebab, umat telah bersatu dalam menjaga yang benar. Sebab pula, kita telah berpadu mempatrikan hati pada kebenaran. Kebenaran itulah yang dijaga, kebaikan pula yang akan tiba. Bukan lagi berkutat pada yang fana, namun lebih tinggi lagi yakni kepada yang baka.

Teguh hati pada yang benar mengantarkan pada sifat syaja’ah. Inilah yang perlu kita tumbuhkan. Mari, tegakkan yang benar, lillahita’ala!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s