Tasyakkur

 fb_img_1486600903474
Tasyakkur, atau bisa dibahasakan sikap bersyukur menjadi hal yang terpenting bagi saya untuk setiap tanggal 9 Februari. Bukan untuk mengkultuskan satu tanggal menjadi hari baik atau hari buruk, tapi saya kira momen bertambah umur ialah waktu yang tepat untuk bertasyakkur.
Usia bertambah, demikianlah apa yang sering dipikirkan sebagian orang. Namun, bila melihat dari segi hakikat, sebenarnya jatah umur justru berkurang. Tak hanya dalam momen ulang tahun, setiap saat sejatinya waktu hidup kita terus menipis.
Momen semacam ini selalu membawa dua sisi makna. Berbahagia, karena masih bisa menginjak usia yang bertambah. Juga masih diberi kesempatan untuk semakin mendewasakan diri. Di sisi lain, bertafakkur, bahwa apa yang telah dikerjakan sejauh tahun sebelum tidak pernah cukup sebagai persiapan di hari kemudian.
Lintas makna dalam hari yang spesial semacam ini pun memberi kembali kilasan memori yang telah lalu. Bagaimana 19 tahun silam, ibu melahirkan saya dengan penuh perjuangan. Kelelahan yang tak mungkin dapat terbalaskan. Sementara, hari demi hari yang dijalani pun belum tentu menjadi amal baik bagi saya maupun sesama. Kenangan indah mungkin nyaman diingat, namun kenangan buruk tentu memberi rasa yang berbeda.
Memori baik maupun buruk itu selalu terekam di setiap momen ini. Namun, dalam sebuah introspeksi yang pernah dilakukan, sebenarnya tak pantas kita menyebut hidup kita melalui hari yang buruk. Pada hakikatnya, bukan kejadiannya yang buruk, namun kejadian itu tidak sesuai saja dengan apa yang saya inginkan.
Ternyata, apa pun yang terjadi pada diri saya ialah yang terbaik untuk saya. Meski pada waktu yang berat dan dalam masa yang sulit, ternyata itulah yang menjadi tempat belajar terbaik dalam hidup. Apa yang saya kira buruk pada suatu hari yang lalu, menjadi yang terbaik pada saat yang kemudian.
Saya semakin percaya, bahwa apa yang terjadi ialah bagian dari suratan takdir. Takdir itu, sudah dalam ketetapan Allah. Apapun yang Allah tetapkan, pasti terjadi. Dan, segala apa yang terjadi pasti baik. Pahit? Mungkin. Tapi obat yang pahit pun menyembuhkan di kemudian hari.
Rasanya, kejadian demi kejadian yang menambah memori dan pengalaman, ialah salah satu guru terbaik dalam kehidupan. Sempatkan waktu sejenak untuk memikirkan perjalanan yang telah usai, sembai bersiap melanjutkan petualangan yang tiada tahu kapan harus selesai. Dari momen seperti ini, menurut pandangan saya, insya Allah akan membantu kita dalam pendewasaan diri.
Salah satu nasihat yang dikatakan sahabat saya, “jid, jadi tua itu pasti, umur pasti bertambah. Tapi mendewasa itu pilihan, karena sikap itu kita yang menentukan” tampaknya pantas menjadi renungan pada momentum semacam ini. Semoga kita pun bisa memaknai ungkapan tersebut.
Terakhir, tiada kata yang patut terungkap selain syukur. Syukur atas kehidupan yang telah dijalani. Syukur atas didekatkannya pada keluarga dan sahabat yang terus menyokong perbaikan diri. Syukur atas nikmat Allah yang tiada sanggup kita menghitung, apalagi membalas. Insya Allah, kita mulai perbaikan diri dari saat ini.
Dari nikmat usia yang baru saja disyukuri, tentu teringat milyaran nikmat lain yang tak bisa kita identifikasi satu per satu. Maka, pantas saja jika Allah berulang kali mengingatkan, “Maka nikmat Rabb-mu yang mana yang hendak engkau dustakan?”
Mari kita renungkan…
Jazakumullah khair atas semua ucapan selamat. Semoga yang mendoakan mendapatkan pula apa yang didoakan. Hatur nuhun…
Advertisements

One thought on “Tasyakkur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s