Memaknai Tanda-Tanda

DSC_0016.JPG
dokumen penulis

Turunnya hujan yang melewati siang dan malam hingga berhembusnya angin dari utara menuju selatan bukanlah sekadar fenomena alam saja. Amat sia-sia, bila kita hanya mampu menjelaskan fenomena pergantian musim ini sebatas pada terjadinya angin muson dan siklus air saja. Tak pantas juga, jikalau datangnya musibah banjir dan tanah longsor hanya membuat kita menyalahkan pemerintah, apalagi menyalahkan Tuhan.

Segala yang terjadi pada hidup kita adalah sebagian dari tanda-tanda. Tanda akan kemahasempurnaan penciptaan Allah. Tanda kehebatan pengaturan hukum sunnatullah. Tanda bahwa kita adalah makhluk yang digenggam Sang Khalik.

Pada sebuah kisah, sang muadzin, Bilal bin Rabbah datang kepada Rasulullah Saw. seusai mengumandangkan azan subuh. Ia pun mendapati Rasulullah Saw. sedang menangis. Ketika ditanya atas sebab apa beliau menangis, rupanya Nabi Muhammad sedang merenungi ayat ke 190 dan 191 surat Ali Imran. Beliau bersabda, “alangkah merugi dan celaka, orang yang membaca ayat ini namun tidak merenungi isi kandungannya”.

Penting bagi kita untuk kembali melihat surat Ali Imran ayat 190-191 berikut,

إِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِ (١٩٠) الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (١٩١)

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (ulil albab) (190) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring. Dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka” (191)

Ayat ini menegaskan pada kita, bahwa tidak ada satu pun kejadian di muka bumi, baik fenomena alam maupun sosial, yang berada di luar kekuasaan Allah. Munculnya matahari di pagi hari, dan bergilirnya bulan sabit dan purnama di kala malam merupakan dua tanda yang selalu kita lihat setiap hari. Keduanya merupakan tanda kuasa Allah atas pengaturan kehidupan di bumi.

Tak cukup bagi kita untuk memikirkan sebab dan akibat dari berbagai fenomena. Jika hanya sebatas memahami teori penciptaan bumi, ataupun konsep-konsep keteraturan alam, tentu tak ada bedanya dengan ilmuan yang tak beriman. Perlu sampai pada tahap menauhidkan kuasa Allah. Jika hanya sebatas pada teori dan konsep, ujungnya hanya akan pemujaan kepada kecerdasan manusia. Mengagungkan ilmuan, tapi tidak ingat kepada yang memberikan kecerdasan.

***

Saat ini, kita tengah memasuki musim puncak musim penghujan. Hujan mengguyur berhari-hari. Henti sejenak, namun turun pun dengan banyak. Tentu, ada konsekuensi dari banyaknya curahan hujan ini. Bila alam telah rusak, banjir dan longsor pun sulit dihindarkan. Bila daya tahan tubuh lemah, pun penyakit akan sulit dicegah.

Tapi, bila banjir tiba tidaklah arif bila justru kita menyalahkan hujan. Ada kalanya, kita yang kurang bersyukur. Berbulan-bulan tak banjir, justru menganggap hebat diri sendiri. Sampai lupa pada Allah yang tak menjadikan hujan berbulan sebelumnya yang kering. Tak perlu menyalahkan siapapun. Segera saling membantu dan berderma. Dengan begitu, kepedulian sosial kita pun menjadi terasah. Taubati yang selama ini masih sering lupa dengan orang-orang yang kurang beruntung. Syukuri, bahwa kita masih bisa mendapatkan sedikit keberuntungan.

Bergitu pun yang terkena flu dan batuk saat musim berganti. Jangan salahkan musim, karena memang setiap tahun pun musim berganti. Inilah saatnya introspeksi diri. Saat sehat, mungkin masih kurang bersyukur dengan hidung yang lancar bernapas ataupun lidah yang nyaman mengecap. Syukuri dulu nikmat yang kita alpa syukuri, kemudian tak perlu mengeluh. Carilah obat dan tetap berharap kepada Allah untuk mengangkat penyakit sekaligus kesalahan kita yang telah lalu.

Hanya dengan begitu, apa pun yang terjadi pada alam ini, tak akan mudah untuk kita sesali. Tak pantas sepertinya kita ini banyak mengeluh. Sedangkan nikmat Allah saja belum dapat kita syukuri secara menyeluruh.

Maka, bergantinya musim ini harus kita tafakkuri. Kita pahami mengapa musim berganti. Kita ingat pula siapa yang menggerakkan pergantian musim itu. Jangan puas bila kita hanya paham fenomena sains saja. Teruslah menggali sembari mengucap syukur pada Ilahi. Jangan sampai kita termasuk ke golongan yang merugi. Yakni, orang yang hidup namun tak tahu diri.

Mari, kita pahami tanda-tanda. Agar kita menjadi ulil albab. Yakni, manusia yang cerdas akalnya, dan tauhid prinsip hidupnya.

Rabbanaa maa kholaqta haadzaa baatila, subhaanaka faqinaa ‘adzaabannaar

Duhai Rabb, tiadalah Engkau menciptakan segalanya dengan sia-sia. Maha Suci Engkau. Maka, lindungilah kami dari adzab neraka…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s