Perlukah Feminisme?

o-FEMINISM-facebook

Tidak menjadi seorang feminis bukan berarti tidak menghargai hak-hak perempuan. Untuk menghargai perempuan pun tak perlu mengikuti paham feminisme. Sayangnya, banyak feminis yang mengampanyekan feminisme dengan mengambil titik ekstrem. Mendikotomikan tidak feminis berarti tidak menghargai perempuan. Padahal, cukuplah memahami Islam secara baik dan menjalankannya dengan benar, penghargaan terhadap perempuan dapat dilakukan tanpa menghilangkan pula kefitrahannya.

Kehadiran feminisme

Hadirnya feminisme di Barat sebenarnya merupakan akibat dari ketidakmampuan masyarakat Barat dalam menghargai perempuan. Perempuan pada masyarakat Barat dahulu tidak dipandang setara dengan laki-laki. Perempuan hanya berurusan dengan pekerjaan rumah tangga saja dan tidak boleh untuk merasakan kebebasan. Dalam politik, perempuan pun tidak memiliki hak untuk dipilih apalagi memilih. Akhirnya, muncullah sebuah pergerakan yang ingin menuntut hak terhadap perempuan. Hasilnya, perempuan pun mendapatkan hak politik, meski belum sepenuhnya setara dengan laki-laki. Inilah gelombang pertama dari feminisme yang hadir pada abad ke-19 sampai awal abad ke-20.

Berikutnya, gerakan feminisme sempat memudar seiring dengan adanya perang dunia I dan II. Pasca rekonstruksi akibat perang cukup berhasil, pada tahun 1960-an muncul kembali gerakan menuntut kesetaraan di Amerika dan Eropa. Mereka pun menuntut hak dalam pekerjaan sampai dalam masalah seksualitas. Di masa ini, gerakan feminisme pun bergabung bersama dengan para penuntut hak lain, mulai dari hak terhadap kulit hitam hingga terhadap LGBT. Inilah gelombang kedua dari feminisme.

Perkembangan terakhir, setelah terwujudnya hak yang sama di berbagai bidang antara laki-laki dan perempuan, gerakan feminisme belum berakhir. Mereka pun semakin meluaskan gerakannya dan kampanyenya. 8 Maret pun menjadi hari perempuan internasional. Namun, kampanye pada gelombang ketiga ini semakin aneh. Di Barat, terdapat kelompok feminis yang menggaungkan kebebasan untuk tidak berpakaian. Mereka bahkan berani berkampanye tanpa busana untuk menunjukkan kebebasan mereka atas tubuhnya. Dari sini, terlihat gerakan feminisme tidak lagi sekadar menuntut kesetaraan, tapi menuju pada kebebasan.

Perlukah feminisme?

Bagi masyarakat Barat, mungkin gerakan feminisme diperlukan karena mereka memang pada mulanya tidak menghargai perempuan sebagaimana mestinya. Tetapi, bagi masyarakat Islam, tampaknya feminisme tidak dibutuhkan. Sebab, sedari awal, Islam telah hadir sebagai sebuah sistem, yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Bukan hanya untuk laki-laki, bukan hanya untuk perempuan, tetapi untuk semesta. Maka, aneh bilamana ada orang yang mencoba menyatukan Islam dengan feminisme. Bahkan menyebut sebuah gerakan feminis Islam.

Gerakan feminis Islam bukan saja tidak sesuai, ia juga tidak patut. Keberadaan gerakan ini seolah-olah menjustifikasi bahwa Islam, sebelum datangnya feminisme, tidak dapat menghargai perempuan. Padahal, Islam sejak dibawakan oleh Nabi Muhammad Saw. tidak sebatas mengatur hubungan transedental dengan Allah saja. Islam memberi tuntunan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Maka, tidak pantas bila Islam yang telah ribuan tahun hadir disandingkan dengan gerakan feminisme yang hadirnya pun sebagai jawaban atas rendahnya moral bangsa Barat di masa lampau.

Penyandingan Islam dan feminisme pun semakin dirasa hanya untuk melancarkan agenda para feminis saja. Bahkan di dalam banyak kasus, justru mereka mempelintir ajaran Islam untuk kepentingan mereka. Klaim rancu mereka yang mengatakan bahwa Khadijah dan para muslimah lain adalah seorang feminis hanyalah bagian dari kampanye mencari dukungan kalangan muslimah. Saat ini, gerakan feminisme telah menjadi sebuah gerakan pembebasan atas dasar kelamin. Membebaskan perempuan untuk menggunakan tubuhnya semaunya. Membebaskan perempuan untuk berbuat semaunya. Serta kebebasan-kebebasan lain yang tak sesuai fitrah.

Tak jarang, kefitrahan manusia pun diragukan oleh para penyokong gerakan ini. Kefitrahan dianggap hanya sebagai konstruksi dari para pemuka agama untuk melegitimasi sistem patriarki. Klaim mereka ini justru menunjukkan ketidakmampuan mereka dalam memahami Islam. Sebab, pemahaman mereka atas Islam dibangun dari sudut pandang mereka sendiri sembari memandang rendah sistem keagamaan Islam. Maka wajar, pemahaman atas Islam menjadi bias.

Konsep feminisme mengenai kesetaraan gender pada masa kini telah semakin kacau. Tidak hanya membagi manusia ke dalam laki-laki dan perempuan, sebagian feminis turut memperjuangkan “kelahiran” jenis kelamin baru, yang tidak laki-laki pun tidak perempuan. Mereka pun turut memperjuangkan kesetaraan bagi penyuka sesama jenis. Bahkan mereka juga ikut membolehkan pergantian kelamin. Ini tentu sebuah kekacauan yang sedang dibuat oleh gerakan ini, disadari ataupun tidak.

Kekacauan yang dibuat dari kerancuan jenis kelamin ini dapat kita cermati. Di satu sisi, mereka menentang kebolehan Islam atas poligami, namun di sisi lain mereka justru memperbolehkan pernikahan sejenis. Pada kasus lain, mereka juga menentang adanya pembagian waris menurut Islam, namun mereka juga menentang kewajiban perempuan sebagai seorang ibu. Bisa dibayangkan bila tatanan semacam ini telah rusak, hancurlah keadilan yang telah digariskan.

Dr. Erma Pawitasari pernah menuliskan dalam Jurnal Islamia, bahwa ide kesetaraan gender Barat telah menimbulkan kekacauan. “Manusia bingung dengan identitas gendernya, bahkan menggugat Tuhan salah memilihkan jenis kelamin. Kaum transgender dibuat bangga dengan organ pasunya … kaum perempuan dibuat ragu untuk menjalani perannya sebagai perempuan. Perempuan yang patuh dianggap lemah. Perempuan yang meminta nafkah disebut manja.” Sebutnya. Dari sini, dapat kita lihat bahwa ide feminisme yang diusung Barat tidak memiliki landasan moral yang kuat. Akhirnya, diobrak-abriklah tatanan moral yang telah ada.

Gagasan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan tidak sepatutnya mengikuti kehendak manusia semata. Sebab, tak dapat dipungkiri, manusia memiliki kecenderungan mengikuti nafsu. Nafsu yang tak terjaga hanya akan membawa pada jalan yang salah. Pada akhirnya, bukanlah kedamaian dan kebaikan yang diraih, justru kemudharatan yang didatangkan dari cara berpikir yang kacau semacam ini.

Klaim mereka atas penindasan Islam terhadap perempuan pun mudah untuk dibantah. Bila dianggap kewajiban berhijab sebagai suatu penindasan, maka itu bisa dilihat bukan lagi upaya mengemansipasi perempuan, tetapi keinginan agar perempuan terlepas dari syariat agamanya. Jika mereka menganggap perbedaan waris antara laki-laki dan perempuan sebagai suatu bentuk diskriminasi, itu artinya mereka tidak paham dengan hak dan kewajiban muslim maupun muslimah dalam ruang lingkup yang lebih luas. Intinya, kritik mereka terhadap syariat Islam justru menunjukkan ketidakpahaman mereka atas Islam itu sendiri. Akhirnya, hanyalah kritik tanpa makna yang dilontarkan.

Di dalam Islam, laki-laki dan perempuan terdapat perbedaan perlakuan, tetapi itu bukanlah bentuk diskriminasi. Islam telah mengatur sampai berbagai aspek kehidupan. Di sana, Islam telah membuktikan bahwa pembagian peran antara laki-laki dan perempuan bukan untuk mengunggulkan sekelompok dan menindas kelompok lain. Justru, adanya pemuliaan terhadap masing-masing yang sesuai dengan fitrah yang telah diturunkan. Penentuan itu bukan karena adanya diskriminasi. Tetapi sebagai bukti, bahwa ketika seseorang berislam ia telah memasrahkan ketentuan Allah sebagai jalan hidupnya. Sebab ia yakin, Allah lebih mengetahui apapun, termasuk dirinya mengetahui dirinya sendiri.

 

Pada akhirnya, kita dapat melihat bahwa feminisme pada masa kini telah sampai pada suatu titik yang tidak dapat dipatuti lagi. Klaim mereka yang ingin memanusiakan manusia justru terlihat seperti ingin menuhankan manusia. Bukan lagi menjadikan manusia mengikuti kefitrahan, justru mempertontonkan keinginan syahwat semata. Tidak lagi memperjuangkan perempuan agar setara, tetapi sampai-sampai menjadikan manusia melampaui batas. Keinginan mereka agar Islam disusupi oleh feminisme pun tidak perlu kita turuti. Cukup buktikan, bahwa memuliakan perempuan tidak perlu dilabeli feminis. Berislam secara kaffah itulah cara kita menghargai seluruh makhluk Allah sesuai dengan kepatutannya.

 

 

Bacaan lebih lanjut:

Syamsuddin Arif, Menyikapi Feminisme dan Isu Gender

Dr. Erma Pawitasari, Salah Kaprah Pendidikan Gender, Jurnal Islamia, Harian Republika, 18 Juni 2015

http://www.gender.cawater-info.net/knowledge_base/rubricator/feminism_e.htm

https://www.progressivewomensleadership.com/a-brief-history-the-three-waves-of-feminism/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s