Kelas

DSC_0161Dalam banyak peradaban, kelas selalu dalam posisi yang dipertentangkan. Perbedaan status sosial seseorang di dalam masyarakat telah membawa banyak warna dalam kehidupan. Tak hanya mewarnai dinamika keseharian, kelas juga telah membawa banyak konflik dan pemberontakan. Sebab, apa yang diklasifikasikan oleh masyarakat tak jarang merugikan individu ataupun kelompok individu. Dari situlah muncul pertentangan antar kelas dan mengubah struktur sosial, bila perlawanan itu berhasil.

Perbedaan kelas telah berada dalam peradaban manusia dalam waktu yang lama, dan tersebar di berbagai belahan dunia. Di India, sistem kelas menjelma dalam paham keagamaan Hindu. Terciptalah kasta, yang membagi manusia berdasarkan statusnya yang berasal dari keturunan darah. Seorang ibu berkasta Brahmana akan menurunkan kasta itu pada anaknya. Seseorang yang berkasta Sudra pun karena mewariskan apa yang ada dalam darah orang tuanya. Hal ini kemudian dipahami sebagai Ascribed status, status yang didapatkan sejak kelahirannya.

Di Barat, muncul pula kehadiran kelas, baik secara keturunan maupun secara kekayaan. Secara keturunan, muncullah kaum bangsawan yang menjadi pemimpin dari kerajaan-kerajaan. Dari segi kekayaan, timbullah banyak misi penjelajahan samudera yang berkelana ke seluruh dunia. Jangan mengira misi mereka adalah untuk menyejahterakan manusia lain, mereka berkelana untuk mencari kekayaan sebanyak-banyaknya. Merkantilisme pada saat itu telah menumbuhkan semangat mencari harta agar menjadi orang terhormat. Dari sini kemudian timbul pula kelas, bangsawan, kalangan borjuis, dan rakyat jelata. Di tataran global, muncul pula kelas antara kulit putih Eropa sebagai negara kolonial dengan negara lain di Asia, Afrika, dan Amerika sebagai negara koloni.

Selanjutnya, ketidakpuasan terhadap kelas juga menimbulkan pertentangan sendiri di Eropa. Muncullah ide liberalisme Adam Smith yang menggugat besarnya peran negara, yang pada masa itu dikuasai kaum bangsawan, dalam pengendalian pasar. Tangan mereka di pasar ini dianggap Adam Smith membuat pasar tidak lagi sehat. Adanya kekuasaan menentukan harga hanya akan menguntungkan sebagian orang saja. Maka digagaslah ide liberalisme pasar dengan prinsip The Invisible Hand sebagai penentu pasar. Biarlah pasar menentukan sendiri nasibnya.

Ide ini kemudian memicu adanya perjuangan untuk menguasai faktor produksi. Modal dan sumber daya diperebutkan untuk bisa memproduksi barang sebanyak-banyaknya dengan pengeluaran yang sekecil-kecilnya. Inovasi pun berkembang memunculkan pencarian alat yang lebih efisien. Penemuan James Watt akan mesin uap turut mendorong sebuah era baru dalam peradaban manusia. Inilah era industrialisasi.

Rupanya, industrialisasi ini berkembang pesat di Eropa. Kesuksesan kolonialisme menghasilkan aliran modal dan sumber daya yang melimpah di tanah para penjajah. Mereka pun membangun berbagai industri untuk menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Akan tetapi, muncul ketidaknyamanan dari orang kaya sebelumnya, yakni dari penguasa tanah dan petani. Sebab, keuntungan mereka dianggap berkurang akibat industrialisasi. Tuan tanah yang tak mampu bersaing akhirnya menjual tanahnya kepada para pemodal. Dibangunlah berbagai pabrik di berbagai penjuru.

Agar pabrik-pabrik itu bisa berjalan dengan baik, dibutuhkanlah tenaga manusia untuk menggerakkan mesin-mesin. Orang-orang yang tak memiliki modal besar dan akses terhadap sumber daya, ditambah lagi tidak berasal dari kalangan bangsawan, pilihan mereka jatuhlah menjadi buruh. Kalangan buruh menjadi golongan yang cukup penting, massa mereka banyak dan memiliki perasaan senasib. Para pemilik modal ingin menghasilkan produk sebanyak-banyaknya dengan modal sekecil-kecilnya. Ditekanlah gaji para buruh namun tuntutan produktivitas meningkat. Muncullah pertentangan antara kelas buruh dengan kelas borjuis.

Pertentangan ini kemudian dirumuskan oleh Karl Marx akan menjadi sebuah revolusi. Ketidakpuasan buruh yang jumlahnya besar ini, dalam ramalan Marx, akan menjadi gerakan yang meluas dan menuntut pada kaum borjuis untuk keadilan. Revolusi kaum buruh untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas menjadi sebuah pilihan.

Ide Marx ini kemudian dilanjutkan oleh Lenin dengan menciptakan gerakan Komunisme. Dengan Uni Soviet, mereka menginginkan adanya sebuah revolusi besar yang menentang kelas-kelas itu tadi. Negara-negara komunis pun bercirikan adanya prinsip adil yang sama rata sama rasa. Seluruh kekayaan negara dikuasai oleh negara, dikelola oleh negara, dan dibagikan secara merata kepada rakyatnya. Hanya saja, pada akhirnya hal ini menimbulkan masalah baru. Muncul kelas pejabat negara sebagai pengelola kekayaan dan rakyat sebagai kelas penerima hasil kekayaan. Pada praktiknya pun, seperti di Korea Utara, para pejabat menjadi kelas yang kaya raya, sedangkan rakyat tetap miskin secara merata.

Dari sini, dapat dilihat bahwa sepanjang perjalanan sejarah manusia, kelas menjadi hal yang terus bermasalah. Ada yang membagi kelas berdasarkan Ascribed status, seperti kasta dan trah kebangsawanan, ada pula yang membaginya berdasarkan Achieved status, sebagaimana pada sistem merkantilisme dan liberalisme. Upaya menghilangkan kelas pun pada akhirnya menciptakan kelas baru. Hanya berubah nama namun wujudnya tetap.

Untuk mencari solusi dari masalah ini, sebenarnya cukuplah berpaling pada Islam. Di dalam sistem Islam, tidak ada pembedaan kelas berdasarkan keturunan. Seseorang yang berasal dari rahim seorang ningrat tak ada bedanya seseorang yang lahir dari ibu petani. Inilah salah satu faktor yang membuat banyak orang di Nusantara memeluk Islam. Mereka memandang Islam sebagai agama yang memerdekakan dari sistem yang ada sebelumnya. Membuat manusia berada dalam posisi yang sejajar, dari sinilah keadilan dapat ditemukan.

Dalam prinsip Islam, menjadi manusia terbaik adalah sebuah keharusan. Fastaabiqul khoirot diperkenankan, yakni berlomba dalam kebaikan yang tentunya dengan jalan yang baik. Perlombaan semacam ini berbeda dengan yang semacamnya di tempat lain, yang menghalalkan segala cara. Dalam Islam, hanyalah cara halal yang diperkenankan.

Kemuliaan seseorang pun tidak dilihat dari apa yang tampak. Nabi Saw. menjelaskan bahwa Allah tidak akan melihat rupa fisik yang tampan jelita dan bukan pula pada harta kekayaan yang dimiliki. Tetapi, penilaian Allah terletak pada hati yang bersih dari kesyirikan dan pada perbuatan yang bermanfaat bagi sesama. Inilah apa yang harus diperjuangkan, bukan hasil kekayaan, sebab ia bisa saja dari harta yang haram, namun dari proses pencarian kekayaan itulah yang dinilai baik buruknya.

Ada pula yang tampaknya sering terjadi salah paham. Banyak orang yang berlomba untuk menjadi lebih baik dari orang lain, namun ia justru menjadi pribadi yang lebih buruk dari sebelumnya. Bila sebelumnya, ia berada pada jalan ketauhidan, namun karena ingin menumpuk kekayaan, ia menempuh jalan pesugihan. Ini bila digambarkan dalam hadits Nabi, termasuk orang yang celaka, yakni apa yang diperolehnya hari ini lebih buruk dari yang ada padanya sebelumnya.

Agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik, maka Islam ingin agar tiap manusia mempelajari Al Quran. Maka, sebaik-baik manusia, kata Nabi Muhammad Saw., adalah yang belajar Al Quran dan mengajarkannya pada orang lain. Kembali, manusia yang mulia bukanlah yang hanya bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri, namun juga untuk manusia lainnya.

Tak cukup menjadi yang baik dalam hubungan transedental kepada Allah saja, orang yang baik harus pula berhubungan baik dengan sesama. Hingga dijelaskan pula kepada kita, sebaik-baik manusia ialah yang baik pada istrinya dan juga tetangganya, dan dianggap tidak beriman seseorang yang pada lisannya terdapat bahaya bagi orang lain. Sebanyak apapun harta kekayaan seseorang, bila itu digunakannya untuk menyusahkan orang lain, hilang nilainya di sisi Allah.

Berharta melimpah pun bukan ciri seorang yang sukses menurut Islam. Ketika seseorang bergelimang dalam kolam emas, namun tidak ada sedekah sedikit pun, enggan pula membayar zakat, lihatlah Qarun yang ditenggelamkan bersama hartanya. Tidak berharga kecuali hanya memberatkan timbangan saja pada Yaumul Mizan kelak. Maka, disentuhlah kepekaan sesama itu melalui zakat, infaq, sedekah, dan wakaf. Ini untuk menjamin kekayaan itu tidak bertumpuk pada sekelompok orang saja. Ada manfaat yang ditebar dari banyaknya harta pada diri seseorang. Akhirnya, tidak perlu ada ketimpangan dan kebencian pada golongan kaya, sebab manfaatnya pun dirasa bagi kaum papa.

Pada akhirnya, manusia yang terbaik dari yang terbaik ialah orang yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala. Seluruh konsep kebaikan itu, bila tidak dilandasi dengan ketaqwaan, hanya akan menjadi sia-sia belaka. Sedekah yang banyak namun bukan ikhlas yang diniatkan hanya akan mengurangi harta tanpa menambah keberkahan. Mendalami ilmu namun bukan Allah yang dituju hanya akan menambah gelar bukan keihsanan. Dapat dilihat, harus ada kesepaduan antara perbuatan dengan hati. Maka penentuan manusia terbaik, hanyalah Allah yang berhak menentukan. Masyarakat pun tak perlu dikotak-kotakkan berdasarkan fisik, justru saling bersatu padu dan bergerak bersama untuk membangun peradaban kebaikan.

Jadi, masihkah kita mau untuk memilih kelas-kelas yang manusia ciptakan? Padahal tak ada yang lebih baik selain mejadi manusia yang taqwa? Masihkah kita mau mengikuti orang yang hanya menggunakan akalnya saja dalam menyelesaikan masalah? Padahal apa yang mereka pikirkan pun hanya mengubah masalah menjadi bentuk baru atau bahkan menambahnya?

Kembalilah pada Islam, agar kelas tak perlu lagi menjadi pertentangan. Cukuplah ridha Allah yang menjadi patokan. Agar hidup kita lebih tenteram dan berada dalam keadilan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s