Dukung dan Benci

Dukung dan Benci

Berita: Cagub X menyelenggarakan pengajian
Reaksi: Itu bukti dia peduli terhadap umat Islam

Berita: Cagub Y menyelenggarakan pengajian
Reaksi: Itu politisasi agama!

***
Berita: Cagub X mengumpulkan dukungan
Reaksi: Itu bukti ada dukungan rakyat

Berita: Cagub Y mengumpulkan dukungan
Reaksi: Itu mencuri start!

***
Berita: Cagub X mendapat dukungan ulama
Reaksi: Tuh kan, dia memang dekat dengan umat

Berita: Cagub Y mendapat dukungan ulama
Reaksi: Dia disokong kelompok radikal!

***
Please, siapa pun yang kita dukung, berpikirlah jernih dan berlakulah adil. Kalau memang kegiatan yg dilakukan sama, atau tdk jauh berbeda, kenapa reaksi kita justru bisa berbalik 180 derajat?

Kalau memang Anda mengaku netral, bijak, dan cerdas, tunjukkanlah dalam perilaku. Jangan karena kebencian terhadap sekelompok golongan, Anda tidak bisa adil dan justru melupakan kebebasan bertanggung jawab yang kita semua dukung.

Kalau memang Anda sudah berpihak pada seseorang, jangan menjatuhkan orang lain yang saudara Anda sebangsa, senegara, bahkan seagama. Apalagi dengan fitnah dan umpatan yang tak patut.

Jangan pula Anda memonopoli hak untuk berkata, “Kita paling mendukung kebhinnekaan, dan yang lain itu pemecah”. Sadarlah, kita sama-sama menginginkan Indonesia menjadi negara yang lebih baik. Tetapi, jalan yang ditempuh memang berbeda. Kalau memang tujuannya sama, mengapa pula harus membenturkan jalan yang berbeda? Toh kita menuju kebaikan bersama.

Ini berlaku untuk semua pendukung. Saya cukup resah jika hal ini tak segera disikapi dengan baik, akan menjadi bom waktu dan fenomena bola salju. Sedikit demi sedikit menggulingkan kebencian, terpaan dampaknya justru membesar.

Bila ini terus terjadi, energi bangsa ini akan terkuras hanya untuk persoalan yang tak penting. Kekuatan bangsa kita sangat besar. Tapi masih belum saling mengokohkan satu dengan yang lain. Ibarat bangunan, kita masih seperti sekantung semen dan sebongkah batako yang belum mau bergabung. Kualitas memang baik. Tetapi tanpa kolaborasi, sampai kapanpun hanya akan menjadi seoonggok batu dan sebongkah semen. Bersatulah!

Jangan sampai kebencian kita itu terlalu besar, hingga kebaikan yang ada pada orang lain pun sirna. Jangan pula kecintaan kita terlalu besar, hingga cela sendiri pun dianggap indah.

Kita punya hak untuk memilih dengan argumentasi masing-masing. Bertarunglah secara gentle dengan tidak saling mencela apalagi saling memfitnah. Ingatlah, di samping hak untuk memilih, kita punya kewajiban untuk mempertanggungjawabkan hak tersebut. Tanggung jawab pada diri sendiri, masyarakat, bangsa, dan tentunya pada Tuhan Yang Maha Kuasa.IMG_20170318_234038_249.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s