Tak Sekadar Mampu Membaca

IMG_20160708_214933.jpg

Dalam beberapa kesempatan menaiki KRL Commuter Line, tidak jarang melihat rendahnya kemampuan kita untuk memahami tulisan “Khusus untuk penyandang disabilitas, lansia, dan ibu hamil”. Saya yakin, pengguna krl yang duduk di tempat yang tak seharusnya itu bisa membaca. Mereka membawa smartphone, setidaknya mereka mampu membaca atau sekurangnya mampu melihat gambar.

Sekali waktu, seorang pemuda naik ke krl bersamaan dengan sepasang suami istri bersama dua anak yang masih balita. Si ibu menyusui yang masih bayi. Saat ingin duduk di kursi khusus yang ada di setiap ujung gerbong, tiba-tiba pemuda tadi dengan santainya langsung duduk, menggunakan headset, dan menutupi wajah dengan kacamata hitam. Acuh, dan membiarkan ibu tadi kesulitan bersama kedua anaknya yang masih kecil. Beruntung, ibu-ibu di sebelahnya yang tampak sudah berusia malah merelakan kursinya untuk diduduki oleh ibu tadi.

***
Kasus lainnya, di sebuah sekolah, sudah dipampang jelas peraturan beserta sanksi yang menyertai. Di berbagai sudut tertulis, tidak boleh terlambat masuk kelas berulang kali. Saat upacara pun guru sering mengulang nasihat yang sama. Terlambat sekali itu kelalaian, terlambat berulang kali itu kebiasaan.

Sayangnya, masih banyak saja murid yang terlambat. Seolah tulisan peraturan sekolah itu tak terbaca dan nasihat itu tak pernah didengar.

***

Di lain kesempatan, tentu kita sering mendengar kabar anggota legislatif terjerat kasus korupsi. Padahal, peraturan pemberantasan korupsi mereka yang membuat. Nahasnya, justru mereka sendiri yang melanggar.

***

Berbagai contoh di kehidupan keseharian itu tampaknya harus menyadarkan kita. Saat ini, yang kita butuhkan bukan sekadar kemampuan untuk membaca. Untuk urusan itu, Indonesia sudah baik dengan tingkat buta huruf yang tidak mencapai 10%. Akan tetapi, bagaimana membaca itu tak hanya dengan mata. Tetapi dipahami dengan akal dan dijalankan dalam keseharian.

Bila sekadar membaca, tampaknya hewan di kebun binatang pun bisa dilatih untuk paham sinbol-simbol. Tetapi, bagaimana simbol itu diproses oleh otak sampai menyadarkan bahwa kita seharusnya berbuat A dan tidak sepatutnya berbuat B itu hanya manusia yang bisa. Akankah kita berhenti hanya sampai pada tahapan layaknya lumba-lumba di kebun binatang?

Kesadaran itu pun seharusnya semakin bertambah. Sebab, manusia memiliki sistem nilai, norma, hingga hukum. Setidaknya, bila kita sadar bahwa kita adalah manusia yang menjadi bagian dari masyarakat, tak sampai hati kita mengganggu ketertiban masyarakat umum hanya demi nafsu kenyamana pribadi.

Apalagi, bila kita adalah makhluk beragama. Tentu, ada lagi seperangkat doktrin, sistem akhlak, hingga aturan agar menjadi manusia beradab. Bagaimana kita bisa dikatakan beragama sedangkan apa yang diajarkannya pun tak kita terima?

Mungkin, apa yang tadi dicontohkan sangat sederhana. Naik kereta, pergi sekolah, hingga berpolitik. Tapi, sesederhana apapun, itu ada dalam keseharian dan menjadi keharusan bagi kita untuk paham bagaimana menjadi bagian dari masyarakat.

Tampaknya, bila kita mampu menjalankan agama, mengikuti sistem nilai, norma, dan hukum, tak perlu sampai menjadi yang dibayangkan Thomas Hobbes mengenai manusia, “manusia adalah serigala bagi manusia lain”. Justru, kita akan mampu menjadi sebaik-baik manusia sebagaimana yang Baginda Rasul sabdakan, yakni yang bermanfaat bagi sesama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s