Saat Kang Emil Mencalonkan Diri…

Saat Kang Emil mencalonkan diri…

Sebenarnya, saya cukup kaget dengan keputusan Kang Emil dalam pencalonan pilgub Jabar. Ada beberapa alasan mengenai kagetnya saya dengan keputusan itu. Pertama, masih terlalu dini untuk memutuskan maju dan menerima deklarasi pinangan parpol. Pilkada Jabar masih tahun depan, dan jabatan beliau di Bandung masih setengah periode lagi. Kedua, parpol yang diterima untuk mengusung, Nasdem, bukanlah pemilik suara mayoritas di parlemen Jawa Barat. Ini tentunya dapat membuka peta politik baru di Jawa Barat, yang selama ini juga menjadi barometer politik nasional, selain DKI Jakarta. Ketiga, Kang Emil yang selama ini merupakan independen, berubah partai pendukungnya dari pilwalkot Bandung yang lalu, yakni Gerindra dan PKS, menjadi Nasdem, yang di pilkada DKI tampak tidak bersahabat, bahkan berseberangan.

Situasi politik nasional kita saat ini memang sedang memasuki pola baru. Kuatnya semangat keberagamaan umat Islam dan menguatnya pula semangat nasionalisme terlihat di berbagai bidang. Faktor penyebab terbesar tentu dari pilkada DKI. Peristiwa penistaan agama menyadarkan kita, bahwa kita membutuhkan pemimpin yang berkarakter. Tak sekadar pekerja keras, namun juga bermoralitas. Di kalangan umat Islam tersendiri pun menyadarkan bahwa pentingnya pendidikan adab, akhlak, dan kepemimpinan.

Kang Ridwan Kamil tampil sebagai salah satu sosok yang menjadi alternatif bagi yang kecewa dengan Pak Basuki. Kinerja pemkot Bandung terbukti menjadi salah satu yang terbaik. Programnya pun tak hanya fisik, melainkan juga pembinaan kerohanian. Seperti gerakan sholat subuh jamaah tiap pekan dan maghrib mengaji. Kang Emil pun tampil di media sosial dengan pembawaan humor, tak membawa kesan galak apalagi sangar. Pendekatannya dianggap cocok untuk para millenials, dan mendobrak beberapa kesan politik yang kaku dan terlalu formal.

Memang, apa yang dilakukan beliau di Bandung, secara kasat mata setidaknya bisa dikatakan berhasil. Modal inilah, yang kemudian dapat dilihat sebagai faktor yang membuat beliau bisa percaya diri maju di pilkada Jabar, sekalipun beliau bukan anggota parpol.

Jawa Barat, bila diperhatikan, memiliki karakter yang cukup beragam. Mulai dari kalangan masyarakat religius sampai penganut agama tradisional, dari kalangan nasionalis melek politik sampai orang yang tidak peduli dengan politik, dan banyak golongan lainnya. Ini membuktikan perlu hadir pemimpin yang bisa merangkul semua golongan.

Gubernur Jawa Barat saat ini, Kang Aher, saya berpendapat, merupakan salah satu gubernur yang sangat baik. Kepribadian beliau yang religius mencerminkan masyarakat Jabar yang banyak di antaranya merupakan santri. Dalam tata kelola pemerintahan pun bisa dikatakan berhasil, karena audit BPK menandakan keuangan yang termasuk kategori WTP. Penghargaan lain pun banyak didapat, baik untuk Kang Aher sebagai sosok pemimpin maupun Jawa Barat sebagai daerah yang dipimpin.

Prestasi Kang Aher ini tentu membuat masyarakat Jabar perlu berhati-hati dalam memilih pengganti beliau. Jangan sampai justru berpindah kekuasaan tersebut kepada sosok yang lebih lemah. Karakter baik yang ada pada beliau pun patut untuk diwariskan. Penggantian pemimpin bukan berarti memutus mata rantai kepemimpinan, namun menyambung rantai pembangunan. Seperti itulah seharusnya.

Kang Emil tampaknya menjadi salah satu sosok yang diidamkan masyarakat Jabar. Salah satu survei beberapa waktu yang lalu menunjukkan, elektabilitas beliau yang tertinggi dibanding tokoh lain seperti bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, maupun Wagub Jabar, Deddy Mizwar. Ini tentunya membuat banyak partai ingin mengusung beliau.

Keputusan beliau untuk menerima pinangan Nasdem dapat dilihat sebagai adanya wujud persamaan kepentingan. Dalam politik, memang kepentingan lah yang paling menentukan, bahkan dibandingkan ideologi. Nasdem sebagai parpol yang masih baru tentu ingin membangun citra positif dan mengambil hati masyarakat. Kang Emil pun membutuhkan kendaraan politik dalam menyongsong pilkada Jabar. Inilah dua kepentingan, yang menurut saya, mendorong deklarasi kemarin.

Keputusan beliau ini tentu mengundang pro kontra. Ini tentu sangat biasa dalam dunia politik. Kritik datang baik dari alasan politis sampai ideologis. Semua akan baik-baik saja apabila 1) yang dikritik adalah fakta, 2) yang dikritik bukan sekadar asumsi apalagi fitnah, 3) kritiknya membangun bukan menjatuhkan, 4) tidak berlandaskan kebencian berlebih dan kecintaan berlebih, dan 5) disampaikan dengan santun. Inilah budaya mengkritik yang perlu kita bangun.

Sayangnya, ada sebagian kalangan pengkritik yang mulai melancarkan cara yang tak elok. Mulai dari mencari kesalahan beliau yang terekam dalam jejak digital sampai melancarkan serangan fitnah yang tidak sehat. Tentu, bukan politik seperti ini yang harus ada di masyarakat kita.

Kekecewaan kita pada keputusan beliau jangan sampai langsung membalik sikap kita. Bila memang kita ingin menyampaikan kritik, pesan, dan pertanyaan, sampaikan tanpa menyerang pribadinya. Jika kemudian memang tak puas, angkatlah calon lain yang menjadi alternatif, tanpa perlu menjatuhkan. Ini berpolitik yang tak sehat.

Sedih rasanya bila kita, sesama anak bangsa, apalagi sesama umat Islam, terpecah belah hanya karena politik. Cukuplah Jakarta yang memanas, tak perlu daerah lain. Memang, kita menginginkan pemimpin yang sempurna, dia nasionalis sekaligus religius, jujur dan transparan, amanah dan komunikatif, dan harapan-harapan lain. Tapi, rasanya akan sangat sulit bila harus menemukan seseorang yang sempurna.

Jangan sampai, pilihan politik yang berbeda membuat kita terdorong untuk membuka jalur fitnah. Bila menurut kita pilihan politik beliau salah, jangan mencela apalagi menghina, itu hanya akan membuat beliau tidak nyaman dan menjadikannya semakin jauh dari yang kita inginkan. Bila pilihan politik beliau menurut kita sudah benar, dukunglah sepatutnya dan jangan sampai membuat beliau tak mampu melihat kekurangan.

Memang, terkadang politik itu jahat. Sampai dikatakan, tak ada kawan dan lawan yang abadi, hanyalah kepentingan yang selalu membersamai. Tetapi bukan berarti itu menjadi alasan, bila ada yang tak sepaham dengan kita lantas menjadi musuh yang boleh diapa-apain. Yang sepaham pun bukan berarti harus dibela sampai mati. Siapa pun calon, dia tetap manusia yang punya kekurangan dan kelebihan. Tugas kita adalah mencari yang seminimal mungkin mudharat yang ditimbulkan sembari membangun kebermanfaatan yang luas.

Belajarlah dari kisruhnya Jakarta. Jangan sampai terulang segala fitnah dan kebencian. Ingatlah, kita ingin negara ini maju dan berdaya saing. Maka jangan habiskan energi dengan cara yang tidak tepat.

Apa yang berbeda, tak selamanya musuh. Ingatlah persaudaraan sesama umat Islam dan sesama bangsa Indonesia. Jangan rusak persaudaraan itu hanya karena politik. Terlalu mahal harga bangsa dan agama ini bila dikorbankan demi kepentingan sesaat.

Bila saudaramu benar, doakanlah agar dia istiqomah dalam kebenaran. Jangan memuji berlebih hingga lupa diri sendiri. Bila saudaramu salah, doakanlah agar dia kembali pada kebenaran. Jangan memaki hingga ia menjauh dari kebenaran hanha karena sikap tak arif dari sebagian.

Sampaikanlah pesan, kritik, dan saran dengan cara yang ihsan. Agar orang lain tak menjauh sebelum pesan tersampaikan. Sebab, kita harus tetap menjalin tali persaudaraan.

 

Mari kita doakan yang terbaik untuk Kang Emil, Jawa Barat, Indonesia, dan Umat Islam secara keseluruhan.MF_Monocle_ridwan_kamil.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s