Mencari Bahagia

DSC_0094

Kalaulah ditanya apa tujuan kita hidup, saya yakin, orang-orang akan menjawab, “mencari bahagia”. Sebab, apalah arti kehidupan tanpa kebahagiaan. Bahkan, untuk mencapai kebahagiaan itu tak jarang ditempuh jalan yang sulit. Berbagai cara ditempuh, agar meraih kehidupan yang bahagia. Sampai-sampai, ada pula yang merenggut kebahagiaan orang lain untuk kebahagiaannya seorang.

Permasalahan menuju bahagia ini banyak dipertimbangkan para cendekiawan. Mereka pun mencari berbagai cara untuk menjadi bahagia. Bila kita melihat pemikir klasik, seperti Socrates, Aristoteles, dan Plato, mereka mencoba merumuskan kebahagiaan itu. Socrates berpandangan, kebahagiaan itu tidak terletak pada aspek material, melainkan pada aspek jiwa dan moral. Untuk dapat mencapai hal itu, diperlukanlah pengetahuan akan sesuatu yang baik dan buruk serta kebebasan berkehendak guna mencapai kebaikan tersebut. Dia menekankan pada perlunya pengetahuan.

Plato kemudian menjelaskan bahwa bahagia tak bisa sekadar pada ilmu. Perlu adanya kenikmatan atas ilmu tersebut. Kenikmatan tersebut harus memenuhi aspek rohani, jiwa, dan jasmani seseorang. Sehingga, bahagianya menyeluruh. Sementara itu, Aristoteles berpandangan, bahwa manusia itu memiliki aspek akal, emosi, dan keinginan. Agar mencapai bahagia, haruslah dicapai semua aspek tersebut.

Kemudian, muncul pula paham merkantilisme, yang melihat bahagia itu dari seberapa besar kekayaan materi yang dimiliki. Mereka pun berlomba-lomba mencari kekayaan dengan menjelajahi samudera dan menjajahi benua. Ekonomi pun ditopang oleh pengerukan sumber kekayaan di daerah lain. Terjajahlah Afrika, Asia, dan Amerika untuk menerangi Eropa. Bahagia bagi pembesar Eropa, namun nestapa bagi korban penjajahan.

Tahapan berikutnya, timbul paham liberalisme. Mereka menekankan bahwa kebebasan individu menjadi syarat mutlak untuk bahagia. Tanpa kebebasan, kebahagiaan tak akan dicapai. Di bidang ekonomi, dibuatlah pasar menjadi sesuatu yang agung. Siapa yang menguasai pasar, dialah yang menguasai kekayaan. Kekayaan pun kembali dicari sebagai sumber kebahagiaan. Ujung-ujungnya, kembali pada kebahagiaan secara fisik semata.

Sistem semacam ini pun mengalami pertentangan. Orang-orang yang menjadi termiskinkan akibat eksploitasi kaum borjuis menjerat hidup mereka. Jumlah mereka banyak, tetapi karena kekayaan mereka sedikit, kebahagiaan mereka menjadi tak ada. Orang seperti Marx kemudian menggulirkan ide untuk membentuk sebuah masyarakat tanpa kelas. Lagi-lagi, ekonomi menjadi patokannya. Kekayaan harus disebarkan merata bagi setiap elemen masyarakat. Menjadi kaya secara bersama ialah wujud masyarakat yang bahagia. Tetapi, ide semacam ini tak pernah terwujud sepenuhnya.

Berbagai sistem semacam ini, mulai dari yang klasik, liberal, hingga marxis, gagal mewujudkan kebahagiaan yang hakiki. Mengapa demikian? Sebab, mereka hanya mampu memandang bahagia itu dari yang terlihat manusia semata. Harta, ilmu, kedudukan, kehormatan, dan juga pemenuhan keinginan. Mereka tak mampu melihat bahwa ada hal yang lebih dalam daripada itu semua. “Bahagia itu ada di dalam diri kita”, demikian Buya Hamka menuliskan. Di mana letak bahagia itu? Ia ada pada hati yang taat pada Allah Ta’ala.

Mengapa hati menjadi sesuatu yang penting? Perhatikanlah apa yang telah Rasulullah Saw. sabdakan berabad silam yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim,

وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ingatlah pada diri manusia terdapat segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh diri manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka buruklah seluruh diri manusia. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu ialah qalb (hati)”.

Menjadikan hati yang tunduk dan patuh kepada Allah itulah, sebab bahagia yang hakiki. Orang mungkin bisa saja bersilat lidah mendeklarasikan diri sebagai orang yang bahagia. Namun, selama ia tak menundukkan diri ada Allah semata, bahagia yang di raih hanyalah pada tingkatan semu saja, bukan bahagia hakiki. Orang yang bahagia hakiki, akan mendapat elemen terpenting dalam kebahagiaan. Yakni, perdamaian.

Rasa damai itu timbul dari keyakinan yang penuh kepada kemahakuasaan Allah semata. Orang yang masih menggantungkan hidupnya kepada selain Allah akan sulit untuk bisa merasa damai. Sebab, rasa damai hanya akan dicurahkan kepada orang yang memiliki keimanan. Orang yang tak beriman, tak akan mampu menggapai kedamaian itu. Akibatnya, kebahagiaan itu pun tak akan mampu mereka raih.

Perhatikanlah firman Allah Ta’ala di Surat Al Fath ayat 4 berikut,

هُوَ الَّذِىٓ أَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوٓا إِيْمٰنًا مَّعَ إِيْمٰنِهِمْ

“Dialah (Allah) yang telah menurunkan rasa sakinah (ketenangan) di hati orang-orang yang beriman, supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)”

Maka, pantaslah kita menjadi orang yang menginginkan timbul kebahagiaan di hati. Tentu, bahagia yang dicari ialah yang hakiki. Tak sebatas pada dunia ini, namun dibawa sampai akhirat nanti. Oleh karena itu, gantungkanlah kebahagiaan kita pada Dzat Yang Maha Tinggi, Allah Swt. saja, bukan pada yang lain. Tak heran, di dalam doa ‘Sapu Jagat’ yang sering dipanjatkan,

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْأٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Duhai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat, dan jauhkanlah kami dari azab neraka”

Inilah hakikat bahagia, mendapat kebaikan di dunia, akhirat, dan terhindar dari azab neraka. Semoga kita mendapat keseluruhan kebaikan ini. Aamiin.

 

 

Bacaan lebih lanjut

Buya Hamka, Tasawuf Modern

Buya Hamka, Falsafah Hidup

M. Quraish Shihab, Akhlak: Yang Hilang Dari Kita

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s