Persahabatan

DSC_0722
Bersama sahabat mengunjungi Museum Fatahillah, Kota Tua Jakarta

Banyak yang berkata, bersahabatlah dengan siapa saja. Sejatinya, cerdaslah dalam menentukan dengan siapa sajakah kita bersahabat. Terlebih ketika sedang menghadapi usia remaja yang belum memiliki keteguhan diri. Memilih sahabat merupakan sebuah keharusan.

Mungkin sudah sering kita perhatikan, bagaimana seseorang yang berkepribadian baik menjadi jatuh dipandang orang karena ia bersahabat dengan orang yang buruk budinya. Tersebab sahabat yang bijak, kita pun akan turut menjadi lebih bijak, setidaknya ketika berbincang dengannya. Tersebat sahabat yang kacau pula, perilaku kita akan turut menjadi kacau. Maka, perhatikanlah dengan siapa kita bersahabat.

Bersahabat itu tak sekadar menjadi teman sepermainan di waktu senggang. Menjalin persahabatan ialah merekatkan tali asih silaturahmi. Tidak hanya bermanis muka ketika ada maunya dan menjauh ketika kita meminta. Mengaitkan hati pada tiap waktu. Di kala kita sedang bersemangat, kita pun akan mengajaknya untuk turut bersemangat. Dan kala kita sedang bermuram, ia akan memberikan motivasi dan menguatkan hati.

Sahabat yang paling baik itu yang mau jujur dengan kita. Mereka layaknya cermin, berani berkata yang benar dan tak segan menegur di kala salah. Mereka siap berkata jujur untuk bisa membantu ataupun tidak. Mereka mau mengoreksi tindak tanduk kita yang tak patut. Mereka juga siap untuk kita beri nasihat di kala sedang lupa. Persahabatan itu saling mengingatkan dalam kebaikan.

Menjalin persahabatan itu seperti merekatkan silaturahmi yang tak ingin diputus. Maka, ketika telah berpisah tempat maupun lama tak bertemu, tetap di hati menyimpan rindu. Di setiap bertemu, selalu disediakan waktu untuk saling bertukar rasa dan pikir. Menambah energi dari melepas penat. Hingga menjalin keakraban hingga usia senja. Agar bersahabat tak hanya sekejap saja, tetapi selamanya.

Sahabat yang baik akan berusaha membawa kita bersama menuju surga. Tak sekadar ingin berkawan di dunia, namun di akhirat ia lupa. Bahkan dalam salah satu riwayat disebutkan, ketika nanti pada Hari Akhir Allah ingin mencari siapa saja hamba yang masih memiliki sejumput iman, maka akan bersahutan orang-orang mencari sahabatnya. Ia merindu sahabat yang dahulu di dunia mengajaknya pada taat namun tak juga dijumpa di taman surga. Sehingga banyak kini sahabat yang berpesan, “panggillah daku jika engkau nanti tak menemuiku di dalam surga”.

Lantas, mengapa kini banyak orang yang tak peduli dengan siapa dia bersama? Hingga dikatakan, persahabatan itu hanya terbatas pada kepentingan semata. Ketika kepentingan itu telah berpisah, terpisah pula sahabat yang dahulu bersama.

Persahabatan semacam ini bukanlah sahabat yang murni. Sebab, sahabat hanya dipandangnya sekadar sebagai alat. Bukan sebagai tempat untuk berbagi manfaat. Padahal, menjadikan sahabat sebagai penebar manfaat bagi sesama merupakan salah satu cara kita dalam memperbaiki diri. Mengajak teman untuk ikut ke dalam majelis taklim hingga belajar bersama teman untuk semakin memperkaya ilmu. Bersahabat yang semacam ini akan menghasilkan persahabatan yang baik. Yakni, persahabatan yang saling mendukung satu dengan yang lain.

Sehingga, wajar bila ada orang yang berkata, tak mengapa bila ia dimanfaatkan sahabatnya, asalkan tidak diperalat. Dia sadar, bahwa menjalin interaksi dengan sesama manusia bukanlah untuk memperalat dan memerah saja. Tetapi, untuk menjadikan diri ini lebih bermanfaat bagi sesama. Sehingga, dikejarlah kebermanfaatan itu pada dirinya dan pada diri sahabatnya.

Maka dari itu, pilihlah sahabat terbaik kita. Sebab, dengan persahabatan yang baik dengan sahabat yang baik pula, diri kita akan terus terpacu menjadi lebih baik. Sebagaimana Baginda Nabi pernah mengibaratkan, seseorang yang berkawan dengan penjual parfum, akan ikut pula harumnya. Jika kita berkawan dengan orang yang berbudi baik, turut pula harum nama kita sebagai sahabatnya. Sementara, bila kita justru berkawan dengan yang berbudi buruk, akan turut jatuh juga nama kita, tersebab perilaku buruk sahabat kita.

Jalinlah persahabatan yang baik, agar hidup kita pun turut menjadi lebih baik, kini dan nanti. Bersahabatlah karena Allah, agar Allah menuntun persahabatan kita menjadi yang merekatkan hati menuju surga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s