Pilkada, Tuhan Baru Kita?

Pilkada-Serentak-Lampung

“Tiada Tuhan yang patut disembah dan diibadahi, selain Allah semata”, itulah bunyi syahadat kita. Tuhan merupakan dzat, yang kita sembah, kita hormati, kita patuhi, kita terus-menerus pikirkan, dan kita ibadahi, sepanjang waktu dan tanpa syarat. Di setiap kegiatan, pada setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun, Tuhan akan menguasai pikiran kita. Apa pun yang kita pertuhankan, akan kita cintai tanpa syarat, sepenuh hati, jiwa, dan pikiran. Itulah kira-kira sikap kita terhadap sesuatu yang kita pertuhankan. Lantas, bagaimana dengan pilkada akhir-akhir ini?

Akhir-akhir ini pilkada DKI telah menyita perhatian kita. Dalam banyak kesempatan ia memenuhi pikiran kita. Di media sosial hingga media massa. Di ruang kerja hingga kelas-kelas. Sampai-sampai di rumah ibadah pun banyak disusupi pesan-pesan pilkada. Inikah pertanda kita telah menuhankan pilkada ini?

Memang, di dalam Islam, masjid tidak hanya berperan sebagai rumah ibadah semata. Masjid menjadi tempat pendidikan umat Islam tak terbatas pada keagamaan saja. Sosial, politik, ekonomi, hingga keluarga perlu diajarkan di masjid. Namun, ketika telah terjadi penuansaan pilkada yang berlebih di dalam masjid hingga melupakan pendidikan atas hal lain, ini berarti telah terjadi pergeseran makna daripada masjid. Menjadi tempat untuk berkampanye.

Begitu pula di sosial media. Seolah-olah tiada hari tanpa postingan yang mendukung salah satu calon. Bila disampaikan dengan ajakan, penjelasan program, dan fakta, jelas tidaklah masalah. Namun bila setiap hari hanya kejelekan pihak lawan dan pujian berlebih pada yang kita dukung, tentu menjadi mengherankan. Kalau memang ingin menyampaikan fakta adanya kecurangan, cukup fakta tanpa perlu tambahan. Ujung-ujungnya adalah diubah menjadi berita hoax. Separah itukah nalar kita korbankan demi pilkada?

Tak perlu mengeluarkan pernyataan yang tak patut. Apalagi, bila sampai kita menjadi sekelompok buzzer yang selalu menyerang kubu lawan tanpa henti. Mungkin dibayar, tapi tiada keberkahan atas rezeki yang didapat dari ujaran kebencian. Mungkin pula dibanggakan ketika yang didukung nanti menang, tapi toh tidak akan mungkin yang terpilih berujar, “terima kasih kepada para buzzer yang setia menyerang kubu sebelah”.

Apakah pilkada telah menjadi tuhan kita?

Mungkin, bila kita berkaca pada hal-hal itu bisa jadi sudah. Setiap hari pilkada yang diingat. Setiap saat pilkada yang diseriusi. Dan apabila telah sampai pada membanggakan diri atas perilaku tersebut, sampai-sampai melupakan proses yang penting lainnya, yakni berdoa, di situlah pilkada telah dituhankan.

Banyak memposting tidak akan mengubah pilihan hati orang lain. Doalah jalan yang harus ditempuh. Semua postingan, kampanye, video, sampai propaganda yang dilakukan adalah sebagian dari ikhtiar. Ikhtiar tidak boleh dilakukan tanpa doa. Jika hanya mengandalkan ikhtiar, tidak akan timbul keyakinan bahwa Allah yang akan menentukan hasil. Jika berhasil, akan sulit ingat ke Allah yang memuluskan. Jika lupa, barulah mungkin ia berkata, “inilah takdir”. Apakah takdir itu hanyalah kegagalan saja?

Sudahlah, tak perlu banyak berdebat mengenai pilkada. Lama-lama mulai membosankan bukan? Pertemanan merenggang hanya karena berbeda pilihan. Kebencian meningkat hanya karena berbeda pendapat. Perang broadcast di semua media sosial terus membanjiri percakapan dunia maya. Lantas, apabila telah usai proses ini, bisakah menyambung kembali tali yang telah terputus?

Bila memang ada yang memilih seseorang karena alasan yang menurutnya logis, biarkanlah. Kalaupun kita ingin mengajak, tak perlu diancam. Orang yang diancam dengan berbagai label hanya akan menambah kejauhan hati saja. Yang tidak memilih si A adalah “anti-Bhinneka” sementara yang tidak memilih si B adalah “munafik”. Yang menjadi pertanyaan ialah, apakah bila memang si A itu terpilih ia akan benar-benar menjaga kebhinnekaan atau justru merusaknya? Ataukah ketika si B itu terpilih ia akan benar-benar menjadi seorang yang taat yang sesuai dengan kita?

Jika memang kita menganggap pilkada ini adalah bagian dari ibadah kita, jangan dikotori dengan hal-hal yang merusak ibadah. Mencaci, menghina, hingga menyahut dengan kata yang tak pantas. Jika pun kita menganggap pilkada ini adalah bagian dari pesta demokrasi di negeri ini, jangan dirusak dengan tuduhan dan kecurigaan kepada pihak yang berbeda. Bukankah berbeda itu biasa dalam alam demokrasi?

Jangan sampai, karena pilkada ini hilang akal sehat kita. Bahkan sampai hilang kesadaran kita, bahwa tujuan kepemimpinan dalam Islam itu jauh lebih besar. Menjadi gubernur, presiden, atau pejabat bukanlah tujuan utama dalam kepemimpinan dalam Islam. Memang, mereka itu adalah representasi dari kita. Namun bukan berarti semua bisa dikorbankan hanya demi pilkada.

Mulai saat ini, cukupkan mempertuhankan pilkada. Bila pernah, cukuplah sampai di sini. Tak perlu berlanjut di pilkada atau pilpres mendatang. Lebih baik kita melatih diri menjadi pemimpin yang baik. Mendidik generasi penerus agar memiliki jiwa kepemimpinan yang Islami. Membangun kesadaran agar setiap dari kita adalah pemimpin, sekurang-kurangnya bagi diri sendiri. Dan pasti, atas tiap kepemimpinan, akan dimintai pertanggungjawaban.

Masih menuhankan pilkada? Cukup sudah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s