Hakikat Pendidikan, Mendidik Hakikat

DSC_0044.JPGHAKIKAT PENDIDIKAN, MENDIDIK HAKIKAT

Seharusnya, pendidikan kita mampu mengantarkan setiap siswa pada nilai hakikat. Apa pun yang dipelajari, semuanya bermuara pada satu hal saja. Yakni, mengingat Allah.

Bila mempelajari gravitasi, janganlah berhenti pada teori gravitasi Newton dengan segala rumusnya. Tetapi, pahamkan bahwasanya, ketika segala sesuatu itu kembali pada pusat bumi, segala planet ditarik oleh pusat tata surya, tata surya pun bertarikan dengan galaksi, itu artinya semua yang ada di dunia ini teratur. Siapakah yang mengaturnya? Allah.

Bila mempelajari reaksi kimia, janganlah berhenti pada rumus-rumus reduksi, oksidasi, dan lainnya. Tetapi, pahamkanlah bahwasanya, tiap ada sebab akan menjadi akibat. Prosesnya itulah yang bernama reaksi. Maka, bila kita ingin akibat hidup (akhirat) itu baik, baiklah pada sebab hidup (dunia). Muaranya, pada Yang Maha Baik, yang kebaikannya tiada terbatas. Allah.

Jika mempelajari fenomena sosial politik, janganlah berhenti pada berkata manusia itu makhluk sosial, berpolitik itu penuh intrik. Pahamilah, bahwa hubungan sesama manusia itu akan ada banyak variasinya. Ada yang baik, ada yang pahit. Ada yang senang, ada yang getir. Maka, pahamkanlah bahwa hidup itu adalah ujian. Guna mencari siapakah yang lebih baik amal perbuatannya. Tiap-tiap perbuatan akan mendapat ganjaran. Agar ganjaran kita baik, berbuatlah kebaikan. Dan ketika manusia tak ada yang bisa menjadi sandaran kebenaran, sandarkanlah hanya kepada Yang Mah Benar. Allah.

Begitu pula pendidikan pada hal-hal lain. Jangan membuat kita berpuas pada apa yang di kulit. Tetapi, doronglah untuk terus menyelidik intisari.

Penjelajahan akan intisari itu akan berbuah hikmah. Bila hidup telah dipenuhi hikmah, yang dipikirkan akan baik, yang diperbuat akan baik, yang dikatakan juga baik.

Itulah sepertinya pendidikan yang harus diperjuangkan. Pendidikan yang tak hanya berfokus pada materi, namun sesuatu di balik materi itu. Tidak hanya melihat pada sesuatu yang tampak, tetapi menyelidiki zat yang mengendalikan itu.

Maka, menjadi mengherankan dan menyedihkan, ketika pendidikan menghasilkan orang yang hanya cerdas lahir, namun fakir pada batin. Sampai-sampai, ia menjadi menuhankan akal daripada pemilik akal. Menuhankan materi daripada pencipta materi. Menuhankan manusia daripada Allah, Tuhan yang menggenggam nyawa setiap manusia.

Lihatlah dampak dari proses pendidikan yang menyedihkan itu. Manusia bersekolah untuk lulus. Setelah lulus, berfokus pada mencari harta. Setelah harta terkumpul, lupalah ia pada Sang Pemberi. Akhirnya, manusia tercabut dari hakikat kemanusiaannya.

Padahal, bila ruh telah terlepas dari jasad, hilanglah kehormatan pada akal, materi, dan manusia itu sendiri.

Pendidikan sejati, itulah yang mengenalkan manusia konsep kehambaan. Dan setiap hamba memiliki Tuhan. Hakikatnya, pengenalan hamba kepada Allah. Agar ia tak tersesat dalam kehidupan.

Didiklah tiap diri kita untuk mengenal Allah, itulah hakikat pendidikan.

Selamat memperingati hari pendidikan nasional.

Advertisements

2 thoughts on “Hakikat Pendidikan, Mendidik Hakikat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s