Tadabbur Ramadhan (1)

tadabbur 1

Bismillah, Insyaa Allah selama bulan Ramadhan ini, saya akan menulis tentang ‘Tadabbur Ramadhan’. Dengan tujuan sederhana, yakni mengisi Ramadhan dengan ilmu dan menambah semangat berbagi. Semoga, kedatangan bulan Ramadhan ini dapat kita jadikan ajang untuk semakin memperkaya ilmu dan meningkatkan kualitas diri. Mohon maaf sekiranya ada penyampaian yang kurang tepat, sebab kita sama-sama masih terus belajar mendalami agama ini.

Pada hari pertama sampai beberapa hari ke depan, Insya Allah kita akan sama-sama mengambil hikmah dari Surat Al Fatihah. Sebab, surat ini amat sering kita baca dan amat jarang ada yang terlupa. Alangkah lebih baik bila kita lebih memahami surat ini, sehingga menjadikan kita lebih menghayati saat membacanya.

***

Seputar Al Fatihah

Kita semua pasti mengenal surat Al Fatihah. Dalam sehari semalam, sekurang-kurangnya, surat ini kita ulang 17 kali dalam setiap rakaat Shalat. Belum lagi dalam tradisi masyarakat kita, surat Al Fatihah sering dibacakan ketika hendak memulai suatu kegiatan. Tentu, dengan terus menerus diulangnya surat ini, pasti memiliki kandungan yang luar biasa. Mari kita pelajari sedikit kandungannya.

Mengenai sebab turunnya, dari yang pernah saya baca dalam Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka, ternyata ada tiga pendapat mengenai waktu turunnya surat ini. Pendapat pertama mengatakan surat ini turun di Makkah. Sebagai surat pertama yang turun secara lengkap dari awal hingga akhir. Pendapat kedua mengatakan surat ini turun di Madinah. Sementara pendapat yang ketiga menyebut, dua kali surat ini turun. Sekali di Makkah dan sekali lagi di Madinah.

Surat Al Fatihah bermakna pembuka. Sebab, surat ini berada di urutan terdepan dalam kitab Al Quran. Sehingga, dikenallah ia dengan sebutan fatihatul kitaab, pembuka kitab. Surat ini juga senantiasa diulang, dalam sehari berkali-kali dibaca. Maka dikenallah ia dengan sebutan as-sab’ul masani, tujuh yang berulang. Surat ini juga berisi pokok-pokok kandungan Al Quran, maka disebutlah ia dengan ummul quran, induknya Al Quran.

Tema inti dari surat Al Fatihah tentulah perihal Tauhid. Sebab, tauhid itulah inti dari ajaran agama kita. Selain tauhid, surat ini juga berisi kesaksian dan pengharapan yang kita semua inginkan, yakni petunjuk dalam kehidupan. Insya Allah, bagian ini akan dapat lebih jelas ketika kita mulai mengambil hikmah dari ayat-ayat di bagian berikutnya.

***

Pada hari pertama di bulan ini, mari kita dalami ayat pertama dari surat ini

(بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang

Permulaan Al Quran, sebagaimana kita dianjurkan memulakan segala sesuatu, ialah dengan menyebut asma Allah. Menyebut asma Allah ini tentulah bukan tanpa sebab. Segala sesuatu, dengan menyebut Allah di awalnya, artinya kita mengakui bahwa ia hanya akan bisa terjadi atas izin Allah. Kita pun dapat melakukan sesuatu, apa pun itu, atas pertolongan Allah. Dan kita melakukan segala seuatu, karena kita mengharap keridhoan Allah.

Apalah lagi kita memulai membaca kitab yang sangat mulia ini. Pasti harus menyebut nama Allah. Kita membuka Al Quran bukan karena ingin disanjung teman, namun karena mengharap Allah bertambah sayang. Kita mempelajari Al Quran bukan karena ingin dilihat orang, namun karena menginginkan limpahan rahmat dari Allah.

Sebagian ulama ada yang berpendapat, bahwa turunnya surat Al Fatihah ayat pertama ini memberikan informasi mengenai siapa sebenarnya Tuhan yang disembah oleh umat Islam. Pada ayat-ayat awal yang turun, Tuhan masih disebut dengan kata Rabb, yang bermakna umum. Seperti di ayat pertama yang turun, iqra bismi rabbika. Nah, turunnya firman bismillah ini menegaskan bahwa Tuhan yang disembah oleh umat Islam adalah Allah, yang bersifat, utamanya, ar rahman dan ar rahiim.

Di ayat ini, Allah menyebutkan dua dari sekian banyak nama-nama-Nya. Yang Allah sebutkan ialah ar rahman dan ar rahiim. Secara bahasa, menurut Quraish Shihab menukil pendapat Ibnu Faris, kedua kata ini berakar kata sama, yakni ra, ha, dan mim. Semua kata yang berakar dari ketiga huruf tersebut bermakna kelemahlembutan, kasih sayang, dan kehalusan.

Pendapat lain juga mengatakan, kata ar rahman artinya kasih sayang yang sempurna, maka hanya Allah yang pantas memiliki kesempurnaan dari kasih sayang. Kasih sayang Allah itu diturunkan kepada semua makhluknya, tanpa terkecuali, sesuai dengan kadar yang ditetapkan-Nya. Kepada hewan, tumbuhan, jin, malaikat, manusia baik yang beriman ataupun tidak, semua diberikan kasih sayang oleh Allah.

Sementara itu, kara ar rahiim, yang secara harfiah juga bermakna kasih sayang, memiliki makna yang berbeda. Menurut pendapat Muhammad Abduh, sifat ar rahiim artinya kasih sayang yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang beriman di hari kemudian. Kasih sayang ini berupa dihindarkan oleh-Nya hamba yang beriman kepada-Nya dari siksa api neraka.

Mengenai ayat ini, ulama pun ada yang berbeda pendapat. Apakah ini bagian dari Al Fatihah, sehingga harus dibaca keras oleh imam ketika memimpin sholat, ataukah tidak. Sebagian ulama, seperti Imam Syafii, berpendapat ayat ini termasuk bagian dari Al Fatihah. Sementara sebagian yang lain, seperti Imam Malik, berpendapat ayat ini bukan bagian dari Al Fatihah.

Adanya perbedaan pendapat ini penting kita pahami. Sebab dalam beberapa kesempatan, ada yang merasa aneh ketika imam tidak memulakan Al Fatihah dengan membaca basmalah. Padahal, ada ulama yang berpendapat demikian. Semoga, dengan kita mengetahui hal ini kita dapat sama-sama belajar, bahwa berbeda pendapat itu sudah sangat biasa, bahkan di kalangan ulama. Dan tidak boleh mengklaim pendapatnya paling benar, apalagi ditambah juga klaim pendapat orang lain pasti salah. Kita boleh berpendapat, selama itu berdasar, dan orang lain pun bisa berpendapat, sejauh memiliki dasar.

Hikmah yang dapat kita ambil dari ayat ini antara lain sebagai berikut. Pertama, Al Quran, sebuah kitab yang sangat mulia, dimulai dengan bacaan yang sangat mulia, yakni kalimat Basmalah. Artinya, kita pun harus memulai segala sesuatu dengan basmalah. Insya Allah, pekerjaan yang dimulai dengan basmalah akan bernilai ibadah. Kedua, di ayat ini disebutkan dua sifat Allah yang utama, yakni ar rahman dan ar rahiim. Kita sebagai makhluk-Nya, sudah sepatutnya meneladani kedua sifat Allah ini dengan saling berkasih sayang kepada sesama makhluk Allah. Kepada manusia, hewan, tumbuhan, dan semuanya. Ketiga, ayat ini juga menjelaskan intisari ajaran Islam, yakni Tauhid. Orang yang berlaku tauhid akan menujukan segala aktivitasnya hanya untuk demi Allah semata, bukan yang lain.

Semoga dapat kita ambil hikmahnya bersama-sama. Wallahu a’lam.

Daftar bacaan:

Al Quranul Kariim dan terjemah

Buya Hamka, Tafsir Al Azhar

Prof. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah

Prof. Quraish Shihab, al Asma al Husna

Prof. Wahbah Az Zuhaili, Tafsir Al Muniir

Advertisements

One thought on “Tadabbur Ramadhan (1)

  1. Subhanallahu… Insya Allah bermanfaat bagi kita semua… bahasanya umum dan mudah dicerna… Aamiiinnn Ya Rabbal Alamiiinnn…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s