Tadabbur Ramadhan (2)

tadabbur 2

Hari kemarin, telah kita pelajari sekilas mengenai surat Al Fatihah dan ayat pertama dari surat tersebut. Hari ini, ada baiknya kita beranjak ke ayat 2 hingga 4.

***

Pada ayat pertama, telah kita mulakan segala sesuatu, khususnya membaca Surat Al Fatihah ini, dengan kalimat basmalah. Pada ayat kedua, kita lanjutkan dengan kalimat hamdalah, yang berarti pujian kepada Allah.

(اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ (٢

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam

Ayat ini pada pokoknya berisi ajaran tauhid. Sepenggal pertama merupakan tauhid uluhiyyah, dan penggalan kedua berisi tauhid rububiyah. Ayat ini, bila dalam keseharian, sering disebut sebagai kalimat hamdalah. Sering kita baca saat mengakhiri sesuatu. Tandanya, kalimat ini menunjukkan lagi syukur kepada Allah yang telah memperkenankan pekerjaan kita, yang dirangkum dalam pujian kepada-Nya.

Penggalan pertama, al hamdulillaahi bermakna segala puji hanya bagi Allah. Memuji dalam makna yang luas, karena segala sesuatu pun pada dasarnya berasal dari Allah. Sebagaimana di ayat yang lalu, segala sesuatu terjadi karena izin Allah, dengan pertolongan Allah, dan bertujuan mencari ridho Allah. Tidak ada sesuatu pun pada hakikatnya pantas mendapat pujian. Kita sebagai manusia juga, jika mau jujur, tidak pernah pantas untuk dipuji oleh orang lain. Itulah mengapa, ketika kita dipuji oleh orang lain dianjurkan membaca tahmid. Artinya, kita mengembalikan pujian itu kepada Allah, satu-satunya zat yang pantas dipuji.

Di penggalan pertama ini kita juga belajar mengenai Tauhid Uluhiyyah, yakni keyakinan kita bahwa hanya Allah sebagai Ilah, Tuhan yang patut disembah. Tidak ada satu pun memiliki hak untuk disembah. Penyembahan kepada Allah hendaknya dilakukan secara total, artinya tidak membaginya kepada makhluk.

Penggalan kedua, rabbil ‘aalamiin bermakna Tuhan seru sekalian alam. Menurut Ibnu Katsir, maksud dari ‘aalamiin yang merupakan bentuk jamak adalah segala sesuatu selain Allah. Dengan kata lain, makhluk. Artinya, kita meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang kedudukannya berbeda dari makhluk. Allah adalah Khalik, pencipta. Sementara selain Allah adalah makhluk, yang diciptakan.

Pada penggalan kedua ini, kita belajar tentang Tauhid Rububiyyah, yakni keyakinan bahwa hanya Allah, Tuhan yang mengatur segala makhluk. Tidak ada satu pun zat yang bisa mengatur alam raya ini, selain hanya Allah. Allah menciptakan sebuah sistem keteraturan alam raya, sehingga dapat terjamin kelangsungan hidup seluruh makhluknya.

***

Ayat ketiga, Allah kembali mengulang dua sifat-Nya yang mulia

(الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣

Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Pada ayat ketiga ini, Allah mengulang kembali dua sifat yang telah disebutkan di ayat pertama, yakni Ar rahmaan dan ar rahiim. Diingatkan sekali lagi, kepada kita, bahwa teladanilah kedua sifat Allah ini. Sifat pengasih dan penyayang kepada siapa pun. Meski kasih sayang kita tidak akan pernah mampu mencapai kata sempurna, sebab hanya milik Allah segala kesempurnaan, bukan berarti menjadikan kita bisa meninggalkan sifat ini.

Ada juga pendapat yang  mengatakan, bahwa dengan diulanginya kedua sifat ini adalah bentuk penegasan, rahmat Allah di atas segalanya. Di dalam sebuah hadits pun dikatakan, rahmat Allah mendahului murka-Nya. Dapat dilihat, bila di ayat sebelumnya dikatakan Allah merupakan Tuhan yang menguasai segala sesuatu, bukan berarti itu akan mengarah pada kesewenangan. Justru, penguasaan Allah atas segala sesuatu berarti danya rahmat Allah atas segalanya.

***

Di ayat keempat, Allah menginformasikan kepada kita mengenai kejadian yang amat penting, yakni hari kemudian.

(مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنَ (٤

Pemilik hari pembalasan

Di sini, Allah mengabarkan mengenai kejadian hari pembalasan. Yaum ad diin artinya hari pembalasan. Maksudnya ialah hari kiamat dan alam sesudahnya. Allah menegaskan, kejadian hari kiamat itu adalah sebuah kepastian. Tidak perlu ada keraguan, sekalipun belum pernah kejadian. Ia pasti akan terjadi di hari yang ditentukan.

Kata maalik bisa ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata ‘milik’. Artinya, menguasai, mengatur, dan menjadikan sesuatu yang dimiliki itu berada dalam genggaman. Selain itu, kata malik juga biasa menjadi gelar raja. Di kesultanan Islam masa lampau, kita kenal gelar raja malikus shaleh dari negeri Aceh. Dalam konteks ayat ini, dapat kita maknai bahwa Allah satu-satunya penguasa hari pembalasan. Sehingga hanya Allah yang berhak tahu akan kejadiannya. Kita hanya diberikan kabar perihal pertanda kedatangannya. Kita pun hanya diberitahu kejadian apakah yang akan terjadi di hari itu. Akan tetapi, bagaimanakah sebenarnya kejadian itu akan terjadi, tidak akan bisa kita bayangkan.

Kejadian mengenai hari kiamat dan setelahnya menjadi salah satu tema yang sering diceritakan di dalam Al Quran. Kehidupan manusia, tidak terbatas pada alam dunia saja, sebagaimana yang diduga oleh penganut paham sekuler. Sekuler berakar dari bahasa latin saeculum yang artinya saat ini. Artinya, paham sekularisme hanya memperhatikan kehidupan saat ini saja, kehidupan dunia saja. Kehidupan setelah kematian tidak dipikirkan, sebab menurut mereka itu tidak pasti dan tidak dapat dibuktikan. Sementara itu, bagi kita umat Islam, kepercayaan akan kejadian hari akhir adalah salah satu dari rukun iman yang wajib diyakini.

Dampaknya, ketika paham sekularisme dibawa ke ranah politik, ia akan mengesampingkan agama. Atau setidaknya, agama hanya urusan privat dan tidak perlu diurus oleh negara. Akan tetapi, bagi seorang muslim sebaiknya nilai keislaman tetap dijalankan pada setiap urusan, termasuk dalam hal kenegaraan. Sebab, bagi kita segala sesuatu seharusnya diniatkan sebagai ibadah. Sebagaimana yang telah diurai di penjelasan kemarin, segala sesuatu terjadi atas izin Allah, atas pertolongan Allah, dan untuk mencari ridho Allah.

Penting sekali bagi kita untuk paham akan hari kemudian. Hidup kita tak hanya di dunia. Sebelum di dunia kita telah hidup di alam rahim. Seusai di dunia kita memasuki alam kubur atau barzakh. Kemudian ditiupkan sangkakala kiamat, kita masuk ke hari kebangkitan, atau ba’ts. Berikutnya kita akan dikumpulkan dalam padang Mahsyar. Setiap manusia hanya akan menanggung perbuatannya masing-masing. Dia pun hanya memikirkan dirinya sendiri. Selanjutnya kita akan ditimbang segala amalan yang telah diperbuat pada hari Mizan. Amalan baik akan dibalas sebagaimana perbuatan buruk pun akan dibalas. Tidak ada satu pun yang luput. Pada akhirnya, melintaslah kita di atas jembatan shirat. Berlabuhlah kita pada tempat yang abadi, antara surga atau neraka, tidak ada di antara keduanya.

Pemahaman lebih lanjut mengenai hari akhir dapat kita pelajari di ayat-ayat Al Quran sesudah Al Fatihah. Artinya, kita pun dimotivasi untuk lebih mendalami Al Quran untuk menyiapkan hari kemudian. Karena kita akan menemui Sang Penguasa hari itu, Allah Ta’ala.

***

Dari ayat kedua sampai keempat, ada beberapa hikmah yang dapat kita ambil.

Pertama, kita harus senantiasa memuji Allah karena hanya Allah satu-satunya  yang patut dipuji. Jangan sampai, kita dilenakan oleh pujian orang lain pada kita apalagi kita hidup hanya sekadar mencari pujian. Sebab, kita tidak berhak atas ujian itu.

Kedua, penting bagi kita untuk mempelajari ilmu Tauhid. Inilah intisari agama kita. Maka, tidak tepat rasanya bila ada yang berkata ‘semua agama itu sama’. Sebab, yang menjadi saripati agama Islam ialah Tauhid. Sementara agama lain mengajarkan selain tauhid.

Ketiga, kita harus terus meneladani sifat kasih dan sayangnya Allah kepada siapa pun. Sebagai sesama makhluk, kepada siapa pun seharusnya berbuat adil. Keadilan bukan berarti kekejaman. Tetapi, bermakna kekuatan untuk menegakkan kebenaran dari Allah. Semuanya dijalankan dalam kerangka kasih dan sayang.

Keempat, pelajarilah hidup sesudah di alam dunia. Dengan memahami hari kemudian, kita akan menyiapkannya. Persiapan itulah yang membuat kita tak akan menyesal di hari nanti. Sebab, kita telah mengetahui sejak jauh hari. Caranya, baca terus Al Quran, juga pelajari buku-buku yang berkaitan.

Insya Allah, kita akan mampu menghayati ayat kedua hingga keempat dari surat Al Fatihah ini. Aamiin.

 

Daftar Bacaan

Al Quranul Kariim dan terjemah

Buya Hamka, Tafsir Al Azhar

Prof. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah

Prof. Quraish Shihab, al Asma al Husna

Prof. Wahbah Az Zuhaili, Tafsir Al Muniir

Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s