Tadabbur Ramadhan (3)

tadabbur 3

Pada hari pertama dan kedua, telah kita bahas mengenai surat Al Fatihah dari ayat pertama hingga keempat. Di hari ketiga ini, mari kita tuntaskan pembahasan mengenai surat Al Fatihah. Ayat kelima hingga terakhir, secara umum membahas mengenai persaksian dan permohonan kita kepada Allah.

***

Ayat kelima membincangkan mengenai persaksian kita kepada Allah.

(اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ اِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Setelah pada empat ayat pertama kita diperkenalkan mengenai Allah, di ayat kelima kita mengakui kelemahan diri. Telah kita pelajari tauhid di ayat-ayat awal, maka kita bersaksi di sepenggal yang pertama ayat ini. Iyyaaka na’budu. Hanya kepada Engkau, Ya Allah, kami menyembah. Kita di sini telah mengikrarkan diri menjadi seorang ‘abid, atau ahli ibadah. Penyembahan kepada Allah ini hendaknya dilaksanakan secara totalitas.

Di sepenggal yang berikutnya, kita lanjutkan pendirian kita. Wa iyyaaka nasta’iin. Dan hanya kepada Engkaulah, Ya Allah, kami memohon pertolongan. Memohon pertolongan menjadi konsekuensi bila kita telah bergantung pada sesuatu. Karena kita telah menghambakan diri, maka sudah sepantasnyalah kita tidak memalingkan diri lagi kepada zat lain untuk mengharap pertolongan.

Menurut Buya Hamka, ayat ini kembali memberikan pengajaran mengenai Tauhid. Iyyaka na’budu, menurut beliau, adalah manifestasi dari Tauhid Uluhiyah. Ketika kita telah mengaku bahwa Allah adalah yang menciptakan kita, artinya kita siap untuk menghambakan diri kepada-Nya semata. Sementara, penggalan kedua, wa iyyaka nasta’iin adalah manifestasi dari Tauhid Rububiyyah. Bila telah kita akui bahwa Allah yang mengatur hidup kita dan menguasai diri kita, maka segala harap hanya akan bertumpu kepada Allah semata.

Mengenai meminta tolong, kita seharusnya punya satu keyakinan. Segala sesuatu terjadi pasti atas izin Allah. Maka dari itu, setiap punya urusan, mohonkanlah pertolongan kepada Allah. Dalam keseharian, kita tentu pernah juga meminta tolong kepada orang lain. Misal, ketika sakit meminta ke dokter untuk memberi obat. Atau ketika belajar, meminta bantuan teman untuk menjelaskan. Hal semacam itu diperbolehkan, namun hanya sebatas pada interaksi sosial saja. dalam hati, kita harus mengiringi dengan keyakinan bahwa permintaan kita hanya kepada Allah. Pada hakikatnya, hanya Allah yang memberi pertolongan. Dokter ataupun teman, mereka hanyalah jalan datangnya pertolongan. Bukan pemberi pertolongan.

Bila diri kita telah yakin bahwa hanya Allah yang bisa memberikan pertolongan, kita bisa dengan mudah lepas dari makhluk. Dalam artian, tidak lagi menggantungkan hidup kepada siapa pun. Tidak seolah-olah misalkan, karena kita terlalu menggantungkan hidup pada teman, ketika teman itu pergi kita pun menjadi sengsara. Orang lain hanya menjadi jalan datangnya kemudahan. Bukan sebab datangnya kemudahan. Maka, dari ayat ini dapat kita ambil pelajaran. Lepaskan harap pada makhluk, bergantunglah hanya kepada Sang Khalik.

Ayat ini menjadi salah satu ayat terpenting dalam hidup kita. Setiap hari, tujuh belas kali sekurang-kurangnya, kita berikrar mengabdi dan memohon hanya kepada Allah. Sayangnya, sebagian dari kita masih ada yang salah dalam membaca ayat ini. Dahulu, guru tahsin saya pernah mengajarkan, jangan membaca iyyaaka menjadi iyaka, tanpa tasydid. Sebab, artinya akan berlainan. Bukan lagi bersaksi kepada Allah, melainkan kepada matahari. Tentu, ini menjadi fatal. Maka dari itu, harus kita perhatikan lagi bacaan pada ayat ini dalam setiap bacaan kita.

***

Di ayat keenam hingga ketujuh ini, kita akan memohonkan sesuatu yang paling penting dalam hidup. Yakni petunjuk.

(اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦

Tunjukilah kami jalan yang lurus

Pada ayat sebelumnya, telah kita bersaksi bahwa kita hanyalah hamba daripada Allah. Kemudian dilanjut kesaksian bahwa kita hanya akan memohon kepada Allah. Di ayat keenam inilah, muncul permohonan kita. Yakni, memohon petunjuk kepada jalan yang lurus.

Mengapa kemudian kita memohonkan petunjuk? Bukan meminta yang lain?

Seringkali, jika diberikan kesempatan untuk meminta, kita akan meminta sesuatu yang jangka pendek. Misalkan, meminta ditambah rejeki dalam bentuk materi. Padahal, bukan itu sebenarnya kebutuhan kita yang paling mendasar. Kebutuhan kita paling mendasar ialah petunjuk. Sekalipun misalnya, materi yang kita punya berlimpah, apalah guna bila tanpa ditunjuki? Yang ada, kita justru menghamburkan uang bukan di jalan yang diberkahi.

Itulah mengapa, kita harus meminta ditunjuki jalan. Bukan sekadar jalan, namun jalan yang lurus.

Lantas, jalan lurus seperti apakah yang dimaksud? Mari kita cermati ayat ketujuh dari surat ini untuk mendapatkan jawabannya.

***

(صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَ لَا الضَّآلِّيْنَ (٧

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Di bagian inilah kita memohonkan petunjuk itu yang lebih spesifik. Kita meminta ditunjukkan jalan. Namun, kalau sekadar jalan semata, orang yang tersesat pun berada dalam jalannya, namun tidak akan sampai pada tujuan. Seorang yang menuju ke Bandung dari Jakarta, akan sampai jika melewati tol Cipularang. Namun akan tersesat jika memasuki tol Merak. Meskipun keduanya sama-sama jalan, tetapi ketika berbeda tujuan, tak akan pernah didapat apa yang dimaksud.

Maka dari itu, kita mohonkan petunjuk kepada jalan yang telah diberikan kepada sebagian orang. Yakni, orang yang Allah berikan nikmat kepada mereka. Siapakah mereka? Ialah para Nabi, Rasul, Syuhada, Ulama, dan orang-orang shalih. Jalan itulah yang kita pahami sebagai agama Islam.

Bagaimana kita memahami agama Islam? Kalau menurut dai kondang dr. Zakir Naik, akan sulit kita memahami Islam jika melihat perilaku orangnya. Karena, sudah banyak orang yang beragama Islam namun tidak menunjukkan kepribadian Islami. Untuk paham agama Islam, pahamilah Al Quran dan Hadits. Keduanya merupakan sumber otentik dari ajaran Islam.

Karena kalimat ini ada di surat pembuka Al Quran, jelaslah yang dimaksud adalah untuk mengantarkan kita pada petunjuk yang lebih luas. Itulah Al Quran dengan 113 surat setelah surat Al Fatihah ini. Di dalam Al Fatihah kita telah menemukan pokok dan inti, maka pahamilah secara lebih mendalam dengan membuka ayat-ayat berikutnya.

Sebagian ulama ada yang berpendapat, ayat ini merupakan penanda awal bahwa di dalam Al Quran nanti, akan dijelaskan mengenai jenis-jenis jalan yang manusia tempuh. Sebagian menempuh jalan yang Allah berikan nikmat atasnya, yakni jalan keimanan. Sebagian lagi orang yang menempuh jalan yang dimurkai. Sebagian terakhir adalah orang yang menempuh jalan kesesatan. Ada ulama yang berpendapat mereka yang dimurkai ialah Yahudi dan yang tersesat adalah Nasrani.

Tentu, kita akan menemukan jalan-jalan seperti ini dalam kisah-kisah yang Al Quran sampaikan. Bahkan, di surat kedua, Al Baqarah 20 ayat pertama pun Allah uraikan tiga golongan manusia. Ayat 1-5 seputar orang yang beriman. Ayat 6-7 seputar orang yang kafir. Ayat 8-20 seputar orang munafik. Insyaa Allah akan kita bahas juga tiga penggolongan manusia ini di kemudian hari.

***

Dari tiga ayat terakhir surat Al Fatihah ini, ada baiknya kita ambil hikmah.

Pertama, kita harus memahami bahwa kedudukan kita ialah hamba, maka bersikaplah selayaknya hamba, tunduk dan patuh kepada perintah Allah. Konsekuensi pula dari penghambaan diri ialah, memohon pertolongan hanya kepada Allah.

Kedua, mohonkanlah dalam hidup kita petunjuk. Sebab, itulah hal terpenting dalam hidup. Semua nikmat itu tak akan berguna bila tanpa ditunjuki kepada jalan yang benar. Yakni, jalan para nabi dan rasul. Jangan sampai, kita membuat-buat sendiri petunjuk itu hingga tersesatlah kita.

Ketiga, pelajarilah kisah-kisah para pendahulu. Ambillah pelajaran dari kehidupan mereka. Di dalam Al Quran sudah Allah ceritakan kisah para Nabi, Rasul, dan orang-orang terpilih. Bila bertemu kisah orang yang Allah beri nikmat, ikutilah. Bila bertemu kisah orang yang Allah murkai, berlindunglah dari mengikuti jejak mereka. Dengan cara itulah, kita akan selamat dunia sampai akhirat.

***

Alhamdulillah, tiga hari di bulan Ramadhan ini, telah kita pelajari surat Al Fatihah. Inilah surat yang amat agung. Maka, mari kita hayati tiap membaca surat ini. Insya Allah, kita akan mendapatkan karunia dari Allah. Aamiin.

 

Daftar Bacaan

Al Quranul Kariim dan terjemah

Buya Hamka, Tafsir Al Azhar

Prof. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah

Prof. Quraish Shihab, al Asma al Husna

Prof. Wahbah Az Zuhaili, Tafsir Al Muniir

Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s