Tadabbur Ramadhan (4)

tadabbur 4

Pada ‘Tadabbur Ramadhan’ edisi 1-3 yang lalu, telah kita bahas surat Al Fatihah, sebagai pengantar pada sendi-sendi agama kita. Insya Allah, pada ‘Tadabbur Ramadhan’ ke-4 dan beberapa edisi selanjutnya, akan kita angkat tema perihal ‘Menuju Taqwa Melalui Puasa’. Insya Allah, akan membantu kita semakin menghayati ibadah puasa selama satu bulan ini.

***

Menuju Taqwa Melalui Puasa – 1

Sejak bulan Sya’ban yang lalu, hingga kita menginjakkan kaki di hari ke-4 bulan ini, kita tentu sudah tak lagi asing dengan surat Al Baqaran ayat ke-183. Ayat tersebut berbunyi,

(يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ (١٨٣

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.

Ayat ini, secara tegas menyatakan tujuan dari ibadah puasa yang kita jalankan, yakni menjadi insan bertaqwa. Insya Allah, ini akan menjadi fokus pembahasan kita dalam beberapa hari ke depan.

Sebelumnya, mari kita pahami, apa yang sebenarnya dimaksud dengan puasa itu?

Puasa, atau bahasa arabnya ialah shaum atau jamaknya adalah shiyam, secara bahasa ia berarti al imsaak, yakni menahan. Arti ini dapat kita dalami secara istilah, yakni menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa, dari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.

Menahan diri dari hal yang membuat puasa kita batal adalah rukun daripada puasa, selain berniat. Maka dari itu, pantang bagi yang sedang berpuasa untuk melakukan perbuatan yang dapat membatalkannya. Menurut ahli fiqih, hal yang membatalkan puasa utamanya berasal dari mulut dan kelamin. Makan, minum, muntah yang disengaja ialah pembatal dari mulut. Sementara berhubungan suami istri, haid, dan mengeluarkan mani secara disengaja adalah pembatal yang berasal dari kelamin. Semua ini tidak boleh dilakukan selama kita berpuasa.

Perkara mengenai dimulanya waktu berpuasa, pada akhir-akhir ini juga mengalami perdebatan. Pada saat apakah imsak itu dimula? Bila merujuk pada ayat ke-187 dari surat Al Baqarah yang penggalannya sebagai berikut,

وَ كُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوْا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

…Dan makanlah dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu hingga datang waktu malam…

Dari ayat tersebut, waktu imsak itu adalah ‘ketika jelas benang putih dari benang hitam, yaitu fajar’. Dari penggalan kalimat ini, para ulama telah berselisih pendapat mengenai kepastian waktunya. Dari buku Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd, saya menyimpulkan dua pendapat. Pendapat pertama, menurut Imam Malik dan sebagian besar ulama, makan sahur berhenti ketika terbit fajar, atau dengan kata lain, datangnya waktu subuh. Sementara pendapat kedua, menurut sebagian ulama, beberapa saat sebelum terbit fajar sebaiknya makan sahur telah berhenti.

Di Indonesia, mafhum dipahami waktu imsak ialah sekitar sepuluh menit sebelum azan subuh berkumandang. Bagi yang ingin mengikuti pendapat kedua, sebagai bentuk kehati-hatian, dipersilakan untuk mengikuti pendapat ini. Sementara bagi yang ingin mengikuti pendapat yang pertama, dipersilakan makan sahur hingga waktu subuh tiba. Alangkah lebih baik bila beberapa saat sebelumnya sudah dihentikan agar memberi jeda dan tidak sampai masih memulai makan ketika waktu subuh telah tiba. Akan tetapi, ada pula yang berpendapat, bila makanan di piring masih belum habis, agar tidak menjadi mubadzir, dipersilakan untuk menghabiskan makanan tersebut dengan segera.

Waktu kita berpuasa akan berakhir ketika tiba waktu malam. Di dalam sistem penanggalan hijriyah, pergantian hari ialah ketika waktu maghrib tiba. Dari sini, dapat kita pahami bahwa berhentinya kita berpuasa ialah ketika azan maghrib berkumandang.

Perlu kita haturkan syukur, kita hidup di negeri tropis. Waktu berpuasa hanya berkisar 13-14 jam sehari. Akan tetapi, beberapa saudara kita di iklim sedang hingga kutub, ketika sedang musim panas, harus berpuasa hingga lebih dari 20 jam dalam sehari. Hal ini juga memberikan ruang bagi ulama untuk berijtihad. Sebagian ulama berpendapat, bagi yang berpuasa lebih dari 20 jam, selama masih ada waktu berbuka, harus berpuasa sebagaimana umumnya. Sejak fajar hingga maghrib. Akan tetapi, bila waktu siang amat lama, hingga lebih dari 24 jam waktu antara fajar dan maghrib, berpuasalah seperti waktu di Makkah. Pendapat lain mengatakan, berpuasanya mereka diperbolehkan mengambil keringanan seperti waktu di Makkah. Dengan pertimbangan, syariat agama tidak boleh memperberat umatnya.

***

Selain dari sisi fiqih, ada baiknya kita memahami puasa dari sisi hakikat. Hakikat dari berpuasa ialah menahan. Menurut sebuah pendapat, menahan itu harus dikaitkan dalam artian luas. Tidak sekadar makan dan minum semata. Akan tetapi, menahan pula dari nafsu syahwat yang dapat mengurangi nilai puasa kita.

Dari sinilah timbul anjuran bagi yang sedang berpuasa untuk menahan amarah jika mau meledak. Menahan pula lisan dari kata yang tidak bermanfaat, bukan sekadar dari bicara yang mengundang dosa seperti ghibah, bahkan menahan dari kata yang tak bermanfaat. Menahan pula pikiran dari memikirkan hal yang tidak patut. Intinya, kita tahan jiwa, pikiran, dan raga kita dari hal-hal yang tidak bermanfaat.

Sebaliknya, dengan berpuasa, kita dorong diri kita untuk melaksanakan kebaikan. Satu  kebaikan berbalas berlipat ganda. Inilah salah satu kesempatan yang tidak seharusnya dilewatkan. Perbanyaklah berbuat baik. Pada siapa pun, dalam bentuk apa pun.

***

Ada beberapa hikmah, setidaknya, yang dapat kita ambil dari yang telah diuraikan

Pertama, hakikat puasa ialah menahan. Menahan diri dari yang membatalkan. Bila ingin ditarik lebih dalam, menahan diri dari yang kurang bermanfaat, sekalipun tak sampai membatalkan.

Kedua, penting bagi kita memahami berbagai pendapat ulama mengenai fiqih puasa. Agar kita tidak terjebak dalam perdebatan yang tidak perlu selama berpuasa.

Demikianlah Tadabbur Ramadhan hari ini, semoga mendatangkan manfaat

 

Daftar Bacaan

Buya Hamka, Tafsir Al Azhar

Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah

Ibnu Rusyd, Terjemah Bidayatu’l Mujtahid

Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s