Tadabbur Ramadhan (5)

tadabbur 5

Kemarin, telah kita bahas mengenai puasa dari sisi fiqih dan juga hakikat. Hari ini, kita akan melanjutkan tajuk ‘Menuju Taqwa Melalui Puasa’ dengan pembahasan seputar orang yang diseru untuk berpuasa, yakni orang yang beriman.

***

Menuju Taqwa Melalui Puasa – 2

Telah disebutkan pada edisi yang lalu, mengenai ayat ke-183 dari surat Al Baqarah. Di bagian awal, diserukan kepada orang yang beriman, untuk menjalankan puasa. Siapa pun, yang mengaku beriman, atau setidak-tidaknya berkeingan menjadi golongan hamba-Nya yang beriman, dengan kadar keimanan sedikit ataupun banyak, diserukan untuk berpuasa.

Prof. Qurasih Shihab dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa ini adalah salah satu bentuk panggilan kasih sayang dari Allah kepada hamba yang dicintainya. Sementara, menurut Buya Hamka yang mengutip pendapat Abdullah bin Mas’ud, panggilan kepada orang yang percaya bermakna ayat tersebut mengandung sesuatu yang amat penting atau perihal larangan yang amat berat. Ayat ke-183 dari surat Al Baqarah ini agaknya memanggil siapa pun yang beriman untuk mengetahui sebuah kabar yang sangat penting, yakni kewajiban berpuasa.

Lantas, siapakah yang dimaksud beriman itu?

Mari kita telisik apakah yang dimaksud dengan iman itu.

Iman, secara bahasa berarti percaya. Sementara secara terminologi istilah, iman diartikan sebagai pembenaran dengan hati, pengakuan dengan lisan, dan pengamalan melalui anggota badan. Pembenaran dengan hati bermakna ia menerima rukun-rukun iman yang Rasulullah Saw. ajarkan beserta keseluruhan ajarannya. Pengakuan dengan lisan artinya kita mendeklarasikan keimanan kita dengan bersyahadat. Sementara pengamalan melalui anggota badan bermakna menjalankan ibadah sesuai dengan tuntunan. Inilah pendapat para ulama mengenai iman.

Sederhananya, iman itu ialah percaya dengan sepenuh hati, jiwa, dan raga, tanpa ada keraguan sedikit pun kepada hal-hal yang wajib diimani.

Pertanyaan berikutnya pun muncul, kepada siapa/apa sajakah kita harus beriman? Mari kita ingat sebuah hadits yang cukup populer berikut mengenai iman, islam, dan ihsan. Pada pembahasan kali ini, akan ditampilkan kutipan perkara iman saja.

قَالَ فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الْإِيْمَانِ. قَالَ اَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَ كُتُبِهِ وَ رُسُلِهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنُ بِالْقَدَرِخَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“berkata dia (Jibril), ‘beritahukan kepadaku mengenai iman!’. Dijawablah oleh Nabi, ‘Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman pada takdir yang baik maupun yang buruk’” (Hadits Riwayat Muslim)

Dari hadits tersebut, dirumuskanlah mengenai rukun-rukun iman. Keenam rukun iman yang telah sejak kecil kita hapalkan ini perlu kita perhatikan dengan saksama. Supaya kita dapat terus upayakan agar iman yang dipunya terus mengalami peningkatan.

Orang yang beriman memiliki banyak ciri. Mari kita perhatikan ciri orang yang beriman menurut beberapa ayat di dalam Al Quran.

Pertama, mari kita buka surat Al Mu’minuun 11 ayat di muka. Dari situ, dapat kita temukan ciri dari orang yang beriman. Ciri mereka, ialah yang khusyu’ dalam sholatnya, menghindari diri dari laku yang tiada guna, menunaikan zakat, menjaga farjinya, tidak berani melampaui batas, memelihara amanat serta sholat, dan mereka itulah yang di kemudian hari kekal di dalam surga-Nya.

Kedua, mari kita buka surat Al Anfal ayat ke-2 hingga 4.

اِنَّمَا لْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ ذُكِرَاللهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ (٢) الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ (٣) اَولٰٓئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجٰتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيْمٌ (٤)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal. (2) (yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka (3) mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (4)

Dari ayat tersebut, dapat kita lihat kembali beberapa ciri orang yang beriman. Menurut Buya Hamka, orang yang mengaku beriman, belumlah terhitung diterima iman itu bila ia belum tergetar hati mereka. Dalam artian, seharusnya ketika orang mengaku beriman, hendaklah ia langsung mengingat betapa besar kekuasaan Allah, sehingga muncullah rasa takut. Mengingat kepada Allah pun bukan hanya pada saat nama-Nya disebut, akan tetapi ketika melihat semesta alam yang merupakan tanda kekuasaan-Nya. tak hanya berhenti di situ, tiap dibacakan ayat-ayat Allah, semakin bertambah keyakinan kepada Allah pada dirinya. Dari hal itu semua, timbul sifat tawakkal, yakni yang diartikan ulama sebagai berharap hanya kepada Allah. Tawakkal inilah pengikat iman.

Berikutnya, ciri iman ialah mendirikan shalat, secara terus menerus sesuai dengan tuntunan. Selain itu, orang yang beriman akan ringan dalam berderma, sebab ia yakin harta itu pada hakikatnya ialah milik Allah. Bila lengkap kesemua tanda itu, disebutlah ia sebagai mukmin sejati.

***

Dari tanda-tanda keimanan ini, dapat kita ambil beberapa hikmah.

Pertama, iman ialah sebuah keyakinan yang sangat mendalam pada diri seseorang kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan takdir-Nya. Manifestasinya tecermin dalam hati, lisan, dan perbuatan.

Kedua, orang yang beriman memiliki banyak penciri. Rujuklah setidaknya surat Al Mu’minun ayat 1-11 dan Al Anfal ayat 2-4. Dari situ, dapat kita perhatikan, sudahkah kita menjadi mu’minuuna haqqa, sebenar-benarnya orang beriman.

Ketiga, orang yang beriman, ketika ia diperintahkan berpuasa, ia akan berpuasa dengan tulus. Tak perlu mencari alasan, cukuplah ia berlandaskan, bila itu yang Allah perintahkan, harus dijalankan. Atau disebut sebagai prinsip ‘sami’na wa atho’na’, kami dengar dan kami taat. Maka, kewajiban berpuasa sama sekali tidaklah berat bagi orang yang beriman.

Itulah ciri orang yang beriman yang dapat kita ambil pada hari ini. Sudahkah kita ikhlas  karena Allah Ta’ala saja dalam berpuasa? Atau kita hanya sekadar ikut orang-orang berpuasa karena tak enak dilihat makan di siang hari? Mari, perbaiki iman kita agar puasa terasa lebih ikhlas.

Wallahu a’lam

 

Daftar Bacaan

Buya Hamka, Tafsir Al Azhar

Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah

Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan, Kitab Tauhid

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s