Nuzul Al Quran

Surah Quraish (Al Quran) Tafseer
sumber: islam.ru

Pada suatu malam, Muhammad, yang kala itu masih belum mendapat risalah kenabian, sedang menyendiri di Gua Hira. Ia memikirkan kondisi umatnya. Mengapa sampai ada orang yang berbuat sedemikian jahat, padahal manusia menghendaki kebaikan? Mengapa sampai ada orang menyembah batu, padahal dia pula yang memahat? Ia bertafakur memikirkan kondisi manusia.

Bertapakah ia? Tidak! Jika bertapa itu merupakan keinginan mewujudkan ambisi pribadi, Muhammad menyendiri bukan untuk dirinya. Namun untuk umat manusia.

Di situlah ruhul quddus, Jibril as. turun. Mendekati Muhammad seraya berkata, Iqro!, bacalah!

Bergetarlah diri Muhammad. Ia jawab, “apa yang harus aku baca? Tak mampu diriku membaca.”

Ya, Muhammad pada saat itu berada dalam keadaan ummi, ia tak bisa membaca dan menulis. Bila melihat konteks sejarahnya, memang pada saat itu di tanah Arab baca dan tulis adalah hal yang langka. Maka seni sastra dipandang amat tinggi pada zamannya.

Teruslah Jibril as. mendekap hingga Baginda pun merasa sesak, dan dilanjut pula perintah, “bacalah!”

Hingga akhirnya diajarkan oleh Jibril, membaca lima ayat yang turun mula-mula

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقْ (١) خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢) اِقْرأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُ (٣) الَّذِيْ عَلَّمَ بِا لْقَلَمِ (٤) عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ (٥)

Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan (1) (Dia) menciptakan manusia dari ‘alaq (segumpal darah) (2) bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Mulia (3) yang telah mengajarkan manusia dengan kalam (pena) (4) (Dia) mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (5)

Bergetarlah Nabi Muhammad setelah itu. Pulang ia ke rumah dan meminta kepada Khadijah, sang kekasih, untuk diselimuti. Pengalaman pertama dan luar biasa ketika menerima wahyu. Itulah permulaan wahyu dari ribuan ayat yang akan datang seiring dengan perjalanan dakwah.

Itulah malam Nuzul Al Quran, malam diturunkannya Al Quran. Itu pula malam Al Qodar, malam yang penuh kemuliaan, yang menentukan perjalanan risalah Nabi Muhammad Saw.

***

Malam Nuzul Al Quran lumrah dirayakan di kalangan masyarakat Indonesia. Merayakan malam mulia, di bulan mulia, yang turun pada Nabi yang mulia, berupa permulaan ayat dari kitab yang mulia, dari Allah Yang Maha Mulia. Sungguh, inilah malam penuh kemuliaan.

Perintah pertama menuntun kita untuk menggemari membaca. Tak cukup sekadar membaca, namun membaca atas nama Tuhan, atau lebih tepatnya membaca atas petunjuk dan pertolongan Tuhan. Sebab Allah yang telah menciptakan, maka Dialah satu-satunya yang memberikan tuntunan dalam setiap bacaan kita.

Sekalipun sebelumnya kita tak mampu membaca, sebagaimana Nabi Muhammad pun tak mampu membaca ketika perintah membaca ini diturunkan, atas pertolongan Allah, kita akan dimampukan oleh-Nya untuk membaca.

Nikmat pertama sekali yang harus kita ingat ialah bahwa kita telah Allah ciptakan. Itulah yang Allah ingatkan di ayat kemudian. Kita diciptakan dari ‘alaqah, segumpal darah yang melekat pada dinding rahim. Tak berdaya! Tidak pula bernyawa! Akan tetapi, kemudian Allah tunjuki gumpalan darah itu menjadi gumpalan daging, terus ia berproses hinnga menjadi janin. Terjamin rezeki tanpa perlu memelas hati.

Itulah yang hendak Allah ingatkan!

Pada ayat ketiga, kembali ditunjukkan. Tiap kita membaca, ingatlah hanya Allah yang Maha Mulia dengan kemuliaan yang paripurna. Boleh jadi, atas kegemaran kita membaca, terasah otak kita, cerdaslah ia. Boleh jadi pula, dengan kecerdasan itu, sejahtera kehidupan kita. Akan tetapi, janganlah lupa, kemuliaan yang kita rasakan di dunia itu, hanyalah titipan. Bukan kita pemilik yang sesungguhnya! Allah pemilik segala kemuliaan, sehingga tak elok bila kita merasa mulia apalagi meminta untuk dimuliakan.

Di ayat keempat, Allah menjelaskan sebuah nikmat lagi. Kita diajarkan menulis melalui perantaraan pena. Ini menjadi pertanda, tidaklah cukup bagi manusia untuk sekadar membaca. Harus dilanjut proses membaca itu dengan menulis. Sebagaimana Imam Syafi’i pernah berkata, ilmu itu ibarat hewan liar, ikatlah ia dengan menulis.

Kini, kita telah hidup di zaman yang modern. Alat tulis tidak lagi sebatas pada pena saja. Ada mesin ketik hingga komputer yang dapat digunakan untuk menulis. Optimalkanlah alat-alat tersebut. Tanpa melupakan bahwa apa pun yang kita tulis, pada dasarnya adalah hasil dari pembelajaran. Proses belajar berarti ada yang mengajar. Merekalah para guru dan ulama. Namun, asal muasal daripada ilmu, pada hakikatnya ialah dari Allah saja.

Dengan membaca, kita bangun kesadaran pentingnya sebuah peradaban. Membangun sebuah peradaban tentulah membutuhkan khazanah keilmuan. Kekuatan ide dan gagasan dapat tergali melalui kegemaran membaca. Dan disebarkan ke segala penjuru alam melalui tulisan. Gemarilah keduanya!

***

Ilmu itu ibarat pelita di dalam kegelapan. Hidup ini ibarat mengarungi belantara. Gelap dan gulita. Ilmu menjadi cahaya yang menunjuki perjalanan. Namun, tidak cukup kita berbekal lentera saja. Kita pun membutuhkan sikap mental berupa kehati-hatian. Itulah pentingnya ketaqwaan. Hingga pada akhirnya, selamatlah kita sampai pada tujuan. Yakni, kembali pada kampung halaman, surga di hari kemudian.

Allahu a’lam.

 

Daftar bacaan

Buya Hamka, Tafsir Al Azhar

Dr. Wahbah Az Zuhaili, Tafsir Al Muniir

Dr. Quraish Shihab, Membumikan Al Quran

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s