Perlukah Beragama?

DSC_0290

Pertanyaan mengenai perlukah kita beragama, masih sering mengemuka. Banyak orang yang berputus asa, apalagi di tengah masa yang banyak kekerasan diatasnamakan agama. Kalau agama hanya mendorong perilaku nista, berebut kuasa, dan memerangi sesama, untuk apa agama itu ada?

Pemikiran mengenai keraguan atas agama sebenarnya sudah mewarnai sejarah kita dengan panjang. Kita percaya, bahwa manusia pertama yang diturunkan ke bumi ialah Adam. Ia juga seorang nabi yang mulia. Risalah tauhid, pastilah ia bawa. Akan tetapi, penyimpangan mulai ada pada masa setelahnya. Ketika banyak orang yang mengabadikan orang-orang shaleh pada masanya dengan patung dari batu, mulailah kesyirikan berbaur dalam masyarakat.

Dahulu, perilaku syirik sebenarnya sederhana. Mereka membuat monumen untuk menghormati orang yang berjasa, seperti pahlawan ataupun pemuka agama. Lama-lama, tak hanya dikenang, dipuja mereka secara berlebihan patung-patung itu. Inilah cikal bakal keraguan pada Allah, dan yang nantinya akan terus berkembang menjadi keraguan pada agama.

Kita percaya pula, bahwa seluruh nabi dan rasul, membawa risalah yang sama. Risalah tauhid. Tidak ada satu pun nabi yang membawa ajaran selain daripada tauhid. Munculnya agama seperti Yahudi dan Nasrani disebabkan penyimpangan yang dilakukan oleh umatnya sendiri. Mereka mengubah kitab suci, dan tidak menjadikan ajaran nabinya lestari.

Berkembangnya paham ketidakpercayaan pada agama, sebenarnya ketika banyak manusia yang tidak puas dengan ajaran agama. Agama dianggap sebagai doktrin semata yang digaungkan oleh pemuka agamanya. Ketidakpuasan ini diperparah dengan adanya perang yang mengatasnamakan agama.

Di dunia Barat, tempat agama Nasrani berkembang dengan segala penyimpangannya, hal tersebut banyak terjadi. Masyarakat di sana menjadi lebih memilih untuk melepaskan diri dari dogma gereja. Ada yang berupaya melakukan purifikasi seperti Protestan. Ada pula yang berusaha menjauh, dengan pengaruh filsafat materialisme dan atheisme. Pengaruh dari aliran inilah yang kemudian mempertanyakan untuk apakah agama itu ada.

Prinsip materialisme, dengan paham atheisme, berangkat dari sekularisme. Sekularisme merupakan paham yang hanya berupaya mengurusi urusan keduniaan semata. Kehidupan dunia dianggap terpisah dengan kehidupan akhirat. Sehingga, urusan dunia hanyalah semata-mata untuk keduniaan.

Sekularisme memisahkan kehidupan agama, dalam konteks Barat ialah Gereja, dengan kehidupan dunia. Hal ini juga dapat dikatakan dipicu oleh ketidakpuasan masyarakat Barat atas ikut sertanya kalangan agamawan dalam urusan kenegaraan. Keberadaan agama dalam urusan negara, dianggap menghambat kemajuan bernegara. Memang, pada masa itu, bangsa Barat berada pada abad kegelapan.

Pada masa pencerahan, atau disebut juga masa Renaissance, mulailah muncul perlawanan terhadap dogma-dogma dari Gereja. Mahsyur kisah Galileo Galilei yang dihukum oleh otoritas Gereja karena berpendapat bumi ini bulat, dan ia mengelilingi matahari. Berbeda paham dengan doktrin Gereja yang berkata bumi ini datar, dan bumi pula pusat dari tata surya.

Tak hanya dalam ilmu perihal alam. Ilmu mengenai kehidupan sosial pun berupaya melawan dogma-dogma yang ada. Tokoh seperti August Comte mengatakan, pada tahapan manusia yang modern, ilmu akan menjadi positivistik. Meninggalkan tahapan sebelumnya yang masih bersifat dogmatis dan percaya pada hal-hal ghaib dan supranatural. Pada masyarakat yang positivis, pandangan manusia terhadap lingkungan sosialnya akan lebih objektif. Terhindar dari alam pikiran yang mengemukakan adanya kekuatan supranatural yang mengendalikan.

Paham inilah yang kemudian menjadikan ilmu pengetahuan bercerai dari agama. Science for the sake of science. Agama cukup mengurusi urusan hari kemudian, hari ini biarlah diurus oleh ilmu pengetahuan.

Bercerainya ilmu dengan agama, menimbulkan dampak berkepanjangan. Etika dan moralitas, yang dahulu bersumber dari agama, dihilangkan. Namun, mereka tetaplah merasa hidup bermasyarakat harus ada aturan. Muncullah paham humanisme, yang memuja manusia dan merelatifkan kebenaran sebatas pada kesepakatan manusia.

Kebenaran tidak ada yang bersifat absolut. Karenanya ilmu pengetahuan tidak perlu membahas sesuatu itu benar atau salah. Cukuplah ia berkata, perilaku itu sesuai atau tidak dengan apa yang diharapkan masyarakat di tempat dan waktu tertentu. Lain tempat, lain waktu, lain pula kesepakatan akan kebenaran.

Industrialisasi turut menyokong keraguan atas agama. Berkembangnya industri, membuat orang menjadi semakin lupa diri. Mereka sibuk untuk bekerja bagaimana mencari sesuap nasi. Perlombaan terjadi saling mengungguli teknologi. Dengan hadirnya teknologi, kehidupan manusia menjadi lebih presisi. Proses A menghasilkan B, akan terus direpetisi oleh mesin tadi.

Hilangnya religiusitas masyarakat, ditambah dengan canggihnya teknologi yang berkembang pesat, membuat masyarakat amat percaya dengan kemampuannya sendiri. Manusialah yang menentukan alam, fisis posibilis dalam bahasanya. Berlayar di laut, tak perlu menunggu angin bertiup. Ada mesin uap yang akan mendorong. Berdagang lintas negeri, tak perlu menunggu musim berganti. Masukkan dalam lokomotif, ia akan melintasi tempat tiada henti.

Berkurangnya ketergantungan manusia pada alam, semakin membuat manusia mempertanyakan. Kalaulah benar ada Tuhan yang bisa segalanya, untuklah apa aku meminta? Sementara dengan teknologi pun, dapat aku capai apa yang sebelumnya tidak tergapai.

Belum lagi, berkembang pula paham Evolusionis makhluk hidup yang dicetus Darwin. Terlepas dari valid atau tidaknya penelitian Darwin, paham Evolusionis ini semakin melepaskan ilmu alam dari agama. Keberadaan berbagai makhluk hidup di bumi seolah-olah terbentuk karena adanya adaptasi atas alam. Makhluk hidup akan memiliki mekanismenya sendiri untuk bertahan hidup dalam lingkungannya. Paham ini juga menganggap, bahwa asal muasal makhluk hidup adalah ketika bersatunya senyawa kimia tertentu yang berkembang menjadi makhluk hidup sederhana bersel satu. Lama-lama, melalui proses evolusi, adaptasi, dan lain sebagainya, muncullah makhluk hidup yang lebih kompleks. Hingga pada akhirnya, terbentuklah manusia yang menjadi puncak evolusi. Manusia menjadi semakin meragu, benarkah Tuhan berperan dalam proses penciptaan?

Sementara itu, paham ragu akan kuasa Tuhan ini, terus berjangkit hingga masa kini. Banyak di kalangan cerdik pandai, yang ia merasa demikian, membuatnya menjauh dari Tuhan. Kecerdasannya menutupinya dari pencarian akan siapakah yang sebenarnya menganugerahi kecerdasan pada otaknya.

Meski sebenarnya, terkadang logika ini cukup mengherankan. Ketika mereka mengklaim, alat-alat canggih itu ada penemunya, katakanlah James Watt untuk mesin uap dan Edison untuk lampu, mengapa mereka tak sampai memikirkan, siapa yang menciptakan alam raya dengan segala kesempurnaannya ini? Siapa pula yang mengatur peredaran benda-benda langit sehingga tetap berkisar pada garis edar?

Secanggih-canggihnya pemikiran manusia, ketika ia berusaha mencari rasionalitas selain pada agama, akan bertemu ujung juga. Dalam memahami alam, hanya akan berkata, “itulah kondisi natural yang demikian mekanismenya”. Sementara dalam memahami interaksi manusia, hanya akan sampai pada pendapat, “hidup ini dijalankan oleh manusia untuk kebahagiaan manusia semata”.

Agama, dalam hal ini Islam, sebenarnya hadir untuk memberikan jawaban atas hal tersebut. Keberadaan agama Islam, sama sekali bukan sebagai upaya untuk menghentikan proses berpikir manusia. Bahkan mendorongnya untuk dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Hanya saja, Islam memberikan pedoman dalam berpikir. Bila pada masyarakat tidak beragama, berilmu itu hanyalah untuk tujuan keilmuan semata, dalam Islam berilmu itu adalah untuk mensyukuri anugerah akal dari Al ‘Aliim, Allah yang Maha Berilmu. Proses berpikirnya pun akan menjadi berbeda. Bila pola pikir atheis semata-mata untuk unjuk kebolehan berpikir, dalam tata aturan Islam, berpikir itu adalah untuk semakin tunduk bahwasanya kita tidak seberapa pengetahuannya.

Mahsyurlah apa yang dikatakan Imam Syafi’i, “Semakin aku menggali ilmu, semakin insyaf diriku, bahwa aku tidak tahu”.

Inilah sikap seorang muslim ketika ia menggali khazanah ilmu. Bukannya ia membusungkan dada sembari berujar, “akulah yang berilmu”. Namun ia bersimpuh dan mengaku, “ilmuku hanyalah setitik pemberian dari samudera ilmu Allah, Sang Maha Penguasa Ilmu”.

Itulah kiranya apa fungsi kita beragama, dalam tataran ilmu.

Lalu, bagaimana dalam tatanan praktis?

Sekelompok orang, barulah dapat kita juluki ia masyarakat, ketika mereka telah bersepakat, atau setidaknya tidak menentang, sebuah tujuan bersama. Itulah kiranya sebab mengapa dalam kehidupan, akan kita temui berbagai macam ideologi. Sebuah konsepsi mengenai pandangan hidup yang ideal dalam alam pikiran manusia.

Pada masyarakat yang berideologi Liberal, mereka akan mengutamakan pentingnya individu. Paham liberalisme, amat menekankan peranan individu dalam masyarakat. Adanya masyarakat pun, terjadi karena kehendak individu yang ingin bermasyarakat. Terciptanya negara, dalam Teori Kontrak Sosial, ialah karena masyarakat bersepakat, diperlukan negara untuk mengelola kehidupannya yang tidak dapat ia kelola sepenuhnya. Ia akan menyerahkan urusan sengketa pada hakim, keamanan pada tentara, dan lain sebagainya. Karenanya, ia akan membayar pajak agar negara tersebut dapat terus berjalan sebagaimana mestinya.

Sementara itu, dalam masyarakat yang berideologi Marxis, mereka akan mengutamakan kepentigan bersama. Hak-hak individu, dapat dikatakan, ditiadakan. Mereka mencita-citakan masyarakat tanpa kelas. Asumsinya, jika masyarakat itu setara, tidak akan ada pertentangan di dalam masyarakat. Mereka juga berpendapat bahwa konflik itu, selain dari adanya pertentangan kelas, terjadi karena fanatisme terhadap agamanya. Hingga dikatakanlah bahwasanya agama itu adalah candu. Ia menekankan pada historisme-materialisme. Memandang sesuatu berdasarkan pada perjalanan sejarah dan membatasi pada hal-hal material yang dapat terindrai.

Bila masyarakat hanya dikembangkan oleh dua ideologi itu, dapat kita lihat adanya kehampaan. Mereka, meski bertentangan satu sama lain, memiliki setidaknya persamaan. Yakni, mereka melepaskan diri dari pengaruh keagamaan. Seolah-olah, untuk mengatur sesama manusia, cukuplah diatur oleh kesepakatan manusia. Meski pada nyatanya, kesepakatan semua manusia itu, hampir dapat dikatakan musykil,

Alasan lain mereka menolak terlibatnya agama dalam kehidupan bermasyarakat, ialah karena kesalahpahaman. Mereka menganggap, agama hanya sebatas mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. Padahal, jika mereka mau menelisik konsepsi Islam, mereka akan menemukan bahwa Islam mengatur hablum minaLlah, hubungan manusia dengan Allah, Sang Pencipta dan hablum minannas, hubungan antar sesama manusia. Keduanya diatur agar tercipta keharmonisan dan keseimbangan.

Dari sini, dapatlah kita menyimpulkan, dalam kehidupan bermasyarakat pun, diperlukan agama. Lebih-lebih dalam hubungan hamba dengan Tuhan.

Kita akan menemukan sebuah paham, yang menganggap bahwa manusia menciptakan sendiri Tuhan yang ingin ia sembah. Dalam masyarakat yang masih (jika boleh dikatakan tanpa maksud menghina) primitif, mungkin akan ditemukan penyembahan atas benda-benda keramat seperti api, batu, pohon, dan lain sebagainya. Mereka mempercayai secara turun temurun bahwa benda-benda tersebut memiliki kekuatan.

Kepercayaan semacam ini, dapat kita lacak dari sejak kisah Nabi Ibrahim as. Ia berdakwah pada masyarakat penyembah batu berhala. Dengan argumentasi logis pun, bahwa mereka tidak mungkin bisa menyelamatkan dan tidak mungkin pula bergerak untuk sesuatu apapun, mereka tidak percaya. Mereka hanya membeo saja pada kepercayaan nenek moyang bahwa batu-batu itu harus disembah. Bahkan terkadang dikasih sesajian berupa makanan, yang sebenarnya lebih nikmat untuk dimakan oleh si pemberi sesajian. Agama semacam ini, akan sulit untuk diterima oleh akal sehat.

Kita juga dapat menemukan kepercayaan atas roh-roh nenek moyang yang kemudian menjelma ke dalam dewa-dewi. Kepercayaan ini akan mengaitkan bahwa segala hal berhubungan dengan roh ini dan arwah itu. Lagi-lagi, akan terbentuk pengultusan pada kuburan nenek moyang.

Kedua kepercayaan ini, kita katakan sebagai animisme dan dinamisme. Kepercayaan pada roh-roh halus dan benda-benda yang dikeramatkan.

Setelah itu, kita juga akan menemukan sebuah paham yang mengatakan bahwa tuhan akan mengikuti bentukan orang yang membuatnya. Jika pada masa lampau, ketika manusia amat sulit beradaptasi dengan lingkungan alam, mereka memiliki banyak sekali dewa atau tuhan, maka dalam masyarakat yang modern, ketika kemampuannya untuk menaklukkan alam sudah sedemikian hebatnya dan teknologi yang diciptakan sedemikian canggihnya, kebutuhan untuk percaya akan tuhan akan semakin berkurang, atau bahkan tidak ada.

Tuhan dihilangkan, sebab manusia sudah amat percaya akan kemampuannya sendiri. Ia tidak butuh lagi akan adanya sesuatu yang maha segala-galanya, bila dalam alam pikirnya, toh manusia pun sudah mampu berbuat banyak hal. Daripada menyibukkan hidup untuk kehidupan setelah kematian yang belum jelas kepastiannya, lebih baik memaksimalkan hidup hingga jelas batasnya, yakni kematian.

Kemajuan masyarakat semakin menghilangkan kebutuhannya akan Tuhan.

Akan tetapi, hilangnya kepercayaan masyarakat kepada Tuhan bukan tanpa masalah. Dengan standar perilaku yang ditetapkan atas kemauannya sendiri, sampai menghilangkan peran Tuhan dalam alam pikirannya sendiri, hanya akan menyebabkan terjadinya kekacauan. Masyarakat tidak takut untuk berbuat jahat, karena toh yang menghukum hanya sesama manusia. Itu pun dapat diajukan argumentasi bermacam-macam sehingga sekalipun dipenjara, tidak berarti hidupnya tidak enak.

Ketiadaan rasa percaya terhadap eksistensi Tuhan juga akan mengosongkan tujuan hidup manusia. Hidup hanyalah sebatas untuk ia hidup. Hari ini adalah untuk hari ini. Hari esok biarlah dipikirkan esok, itu pun kalau memang benar ada akan hari esok. Manusia akan cenderung berbuat sesuka nafsunya, dan seturut inginnya. Batasan baik dan buruk sudah diruntuhkan. Akhirnya, apa pun yang diperbuat manusia, dianggap baik semua.

Itulah mengapa, agama juga dibutuhkan dalam mengarahkan manusia menuju Tuhannya.

Uraian ini, setidaknya menggambarkan kegunaan agama. Yang pertama, sebagai tuntunan berpikir. Kedua, sebagai tuntunan bermasyarakat. Ketiga, sebagai tuntunan individu dengan Tuhan.

Islam hadir dengan semua kegunaan yang diharapkan itu. Sebagai tuntunan dalam berpikir, kita akan temukan bahwasanya berpikir itu tidak bebas nilai. Ada batasan yang jelas antara benar dan salah. Kalaupun ada yang meragukan di antara keduanya, tuntunan Islam ialah meninggalkan yang diragukan itu agar jangan sampai terperosok ke dalam kesalahan.

Sebagai tuntunan dalam bermasyarakat, Islam hadir dengan prinsip keadilan bagi sesama. Keadilan tidak selamanya menjamin keuntungan pribadi. Misal, dalam urusan zakat, itu tidak mungkin diukur enak jika hanya disandarkan pada keuntungan pribadi. Akan tetapi, Islam mendatangkan maslahat bagi sesama dan menyingkirkan perilaku zhalim antara satu manusia dengan manusia lainnya.

Sebagai tuntunan individu, terutama dalam hubungan manusia dengan Tuhan, Islam hadir menyampaikan siapakah Tuhan yang dicari-cari oleh banyak orang itu. Diperkenalkannya Allah sebagai Tuhan manusia pun dapat diterima dengan akal. Sebab, bila dikatakan batu itu Tuhan, tentulah akal akan menolak. Bagaimana mungkin tuhan bisa kita pahat dengan mudahnya. Kalau dikatakan tuhan itu ada tiga yang manunggal, bagaimana mungkin ketetapannya semuanya tidak berlainan. Karenanya, konsep Tuhan dalam Islam, jelas dan diterima oleh akal yang sehat. Allah, dengan segala sifat-Nya, kita imani dan akal yang sehat pun pasti akan mau menerimanya.

Jelaslah dari uraian ini, agama Islam memang benar-benar dibutuhkan oleh kita.

 

Tulisan pertama dalam seri #TafakkurKita

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s